Anakku Sayang Anakku Malang
By: R.Puji Astuti
Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi kesebelas anaknya. Sementara Gundi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, walau semua masih terlelap dalam tidurnya. Trimo menyusuri jalanan penuh becek, karena semalaman tadi hujan tidak reda-reda.
Ia sudah lama berjalan tapi belum juga menemukan makanan, sementara pikirannya bercabang ke kondisi rumahnya yang semalam kena banjir. Dalam benaknya ia ingin segera pulang agar bisa membuat tanggul agar rumahnya tidak basah oleh banjir lagi.
Tapi ia belum mendapatkan makanan sedikit pun, nafasnya tiba-tiba sesak karena banyak yang harus dipikirkannya. Ia berhenti sejenak sambil menatap ke jalanannya dengan tatapan sendu. "Kalau aku pulang mereka makan apa?" guman Trimo.
"Tapi kalau aku tidak pulang, mereka pasti kedinginan. Aku harus gimana nih?" Kebingungan Trimo semakin menjadi saat dilihatnya mendung di langit makin menghitam. Hati kecilnya terus berdebat, ia mulai melangkah terus dengan lesu.
Saat keputusasaannya memenuhi relung hatinya, sorot matanya menangkap roti di buang ke tong sampah. Ia pun dengan gesit mengambil roti tersebut dan membawanya pulang. Ia tak peduli itu roti bekas, sudah kadaluarsa atau belum. Dalam benaknya, kesebelas anaknya pasti senang melihat ia membawa makanan pulang.
Ia berjalan dengan cepat sambil terus tersenyum, kadang rotinya terjatuh karena lelah kakinya berjalan. Ia punggut kembali roti itu, hingga sampai di rumah Trimo memanggil istrinya, "Buk, ini makanan untuk kita hari ini!"
Kesebelas anaknya pun bersorak kegirangan dan langsung menyerbu roti-roti itu. Trimo dan Gundi pun tersenyum menatap mereka bahagia. Namun tiba-tiba kesebelas anaknya memuntahkan apa yang dimakan sambil mengeluh sakit perut dan mereka menghembuskan napas terakhir mereka.
Akhirnya kesebelas anaknya mati, dan Gundi memeluk mereka dalam pelukannya. Sementara Trimo tertenggun kecerobohannya menewaskan seluruh anaknya. Ia tidak menyadari jikalau rotinya beracun.
Setelah lama menangis dan bersedih, sepasang tikus itu pun pergi dengan duka yang mendalam.
#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#3DayChallengeFikmin
#Day1_TokohBukanManusia
Cari Blog Ini
Selasa, 06 November 2018
Sesuatu Yang Tersembunyi
BY : R.Puji Astuti
Segerombolan anak desa sedang asyik bermain bola, “Mungkin mereka ingin jadi pemain bola seperti Evan Dimas,” pikirku saat melihat mereka dari kaca jendela rumahku. Tiba-tiba buliran air menuruni pelupuk mataku, andai kakiku tak seperti ini aku ingin main bola bersama mereka. Puas aku memandang pemandangan di luar sana, aku bergeser lagi ke meja belajarku.
“Kamu harus fokus untuk meraih mimpimu, kamu pasti bisa.” Kata teman ayahku dari Semarang kemarin, beliau melihat bakat lain di diriku.
Rasanya memang benar kata-kata ibuku setiap kali aku menangisi kekuranganku, “Apapun dirimu kalau kau tekun pasti ada yang menonjol darimu.”
Semanggat itu yang aku tanamkan dalam diriku saat ini, setelah akhirnya aku melewati cibiran semua temanku di SDIT Insan Cendekia Salatiga. “Anak cacat mau ikut Olimpiade Sains? kan sudah di wakili Aulia.” Kalimat itu banyak yang muncul saat aku meminta pak Seno mendaftarkan diriku, bahkan dari beberapa guruku juga.
Kesedihan tidak menyurutkan niatku, bahkan saat pak Seno memanggilku ke ruangan guru. “Fikri, apakah niatmu sudah bulat mengikuti ajang ini?” tanya pak Seno seolah meragukan kemampuanku, aku hanya mengangguk.
Hari yang aku tunggu telah tiba, saat kejuaran tingkat kecamatan nilaiku melejit paling tinggi, hal tersebut membuatku mulai banyak yang mendekati. Teman-temanku mengagumi kelebihanku. Aku berhasil melalui tahap demi tahap menuju kejuaraan Nasional, dengan belajar ke Semarang.
Dua hari aku harus melalui perlombaan tingkat nasional, setelah sebelumnya aku di karantina selama satu bulan di Jakarta. Saat pengumuman tiba, hatiku merasakan kegundahan dan ketakutan. Ketakutan akan kegagalan menyelimuti jiwaku. “Pemenang piala emas berikutnya adalah Akbar Fikri Ramadhan,” tangisan itu terpekik dari mulutku.
Semangat berkobar di dadaku sebagai tim Garuda yang berjuang pada perhelatan International Mathematics and Science Olympiade di Xejhiang China. Aku bisa meraih emas lagi aku berucap syukur, "Terima kasih Allah di balik kekuranganku ada kelebihanku."
#TheFigther
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#3DayChalengeFikmin
#Day2FikminGarudaDiDadaku
Langganan:
Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...

