Cari Blog Ini

Selasa, 06 November 2018

Anakku Sayang Anakku Malang

Anakku Sayang Anakku Malang

By: R.Puji Astuti

Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi kesebelas anaknya. Sementara Gundi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, walau semua masih terlelap dalam tidurnya. Trimo menyusuri jalanan penuh becek, karena semalaman tadi hujan tidak reda-reda.

Ia sudah lama berjalan tapi belum juga menemukan makanan, sementara pikirannya bercabang ke kondisi rumahnya yang semalam kena banjir. Dalam benaknya ia ingin segera pulang agar bisa membuat tanggul agar rumahnya tidak basah oleh banjir lagi.

Tapi ia belum mendapatkan makanan sedikit pun, nafasnya tiba-tiba sesak karena banyak yang harus dipikirkannya. Ia berhenti sejenak sambil menatap ke jalanannya dengan tatapan sendu. "Kalau aku pulang mereka makan apa?" guman Trimo.

"Tapi kalau aku tidak pulang, mereka pasti kedinginan. Aku harus gimana nih?" Kebingungan Trimo semakin menjadi saat dilihatnya mendung di langit makin menghitam. Hati kecilnya terus berdebat, ia mulai melangkah terus dengan lesu.

Saat keputusasaannya memenuhi relung hatinya, sorot matanya menangkap roti di buang ke tong sampah. Ia pun dengan gesit mengambil roti tersebut dan membawanya pulang. Ia tak peduli itu roti bekas, sudah kadaluarsa atau belum. Dalam benaknya, kesebelas anaknya pasti senang melihat ia membawa makanan pulang.

Ia berjalan dengan cepat sambil terus tersenyum, kadang rotinya terjatuh karena lelah kakinya berjalan. Ia punggut kembali roti itu, hingga sampai di rumah Trimo memanggil istrinya, "Buk, ini makanan untuk kita hari ini!"

Kesebelas anaknya pun bersorak kegirangan dan langsung menyerbu roti-roti itu. Trimo dan Gundi pun tersenyum  menatap mereka bahagia. Namun tiba-tiba kesebelas anaknya memuntahkan apa yang dimakan sambil mengeluh sakit perut dan mereka menghembuskan napas terakhir mereka.

Akhirnya kesebelas anaknya mati, dan Gundi memeluk mereka dalam pelukannya. Sementara Trimo tertenggun kecerobohannya menewaskan seluruh anaknya. Ia tidak menyadari jikalau rotinya beracun.

Setelah lama menangis dan bersedih, sepasang tikus itu pun pergi dengan duka yang mendalam.

#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#3DayChallengeFikmin
#Day1_TokohBukanManusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anakku Sayang Anakku Malang

Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...