KEBANGGAAN
BY : R.Puji Astuti
Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Namun si cantik Melani nampak murung ketika kedua kakaknya datang bersamaan.
“Bunda, kak Intan kan artis keroncong yang sudah konser kesana kemari.” Kata Melani sambil memeluk ibundanya. Nampak wajahnya meredup menyadari kenyataan dirinya tidak beken seperti kakak sulungnya.
“Kak Candra apalagi, Bun! artis campursari idola seluruh negeri, kalau sepi ngerjain album masih ada tanggapan di hajatan orang.” Kata Melani lagi sambil terus merenung.
“Sudah tidak usah dipikir, kamu juga pandai, cantik dan segalanya buat bunda!” kata ibundanya sambil memeluk Melani dan mengelus rambutnya.
“Makasih Bunda, maaf belum bisa jadi kebanggaan!” kata Melani sambil mengambil nampan berisi tumpeng ulang tahun untuk ibundanya dan menyiapkan hidangan acara malam ini bersama mbok Imah.
Ibunda pun menghampiri Candra yang datang bersama suami dan putrinya, sementara Intandatang bersama kedua putranya. Mereka melepas kerinduan bersama bunda Fitria, berbincang dan bersenda gurau sebelum acara di mulai.
Melihat keceriaan di mata Ibundanya, Melani berusaha menjauh dari mereka. Ia lbih memilih membantu mbok Inah di ruang makan. “Mbok, kenapa aku berbeda dengan kakak-kakakku?” tanya Melani sambil tangannya terampil menyiapkan makan malam nanti.
Mbok Inah sontak tertenggun kaget, ia kemudian ingat Melani bukan saudara kandung Intan dan Candra. Mungkin itu alasan kenapa Melani tidak bisa bernyanyi, namun mbok Inah tidak berani mengatakan hal tersebut. “Saya tidak tahu, Non!” kata mbok Inah langsung meninggalkan Melani ke dapur.
Sementara Intan sempat melihat adik bungsunya sedih, ia pun akhirnya menghampiri Melani. “Mel, kenapa sedih? Ayo kita mulai acara ini, supaya tidak kemalaman nanti usainya.” Kata Intan dengan lembut sambil memapah adik bungsunya bergabung dengan keluarga lain di ruang tamu.
Acara pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun bunda Fitria di lakukan dengan meriah walau hanya bersama anak cucunya. Seusai acara mereka saling berbincang-bincang.
“Mel, kenapa sedih?” tanya Candra sambil mendekati Melani dan duduk sambil mengelus rambut adiknya itu.
“Aku tidak bisa jadi penyanyi beken seperti kalian, aku nggak bisa bahagiakan Bunda.” Kata Melani lirih sambil meneteskan air matanya. Suasana yang mulanya hinggar binggar berubah jadi sendu.
“Mel, bukannya kamu tidak bisa beken. Mungkin belum aja!” jelas Intan secara bijaksana.
“Kenapa suaraku fals sementara kalian suaranya merdu sekali?” tanya Melani sambil terus menanggis.
“Dalam sebuah keluarga itukan kadang memang tidak sama bakat dan sifatnya.” Candra mencoba lagi menghibur adiknya.
“Maafkan Bunda, Mel! harusnya bunda kasih tahu kamu sejak kecil,” Kata Bunda terputus dan menerawang ke langit-langit rumah.
“Kamu adalah saudara tiri mereka, ayah kamu berbeda dengan mereka.” Kata bunda sambil air matanya bercucuran.
“Tidak usah bersedih lagi, bunda juga sangat bangga dengan kecantikan, kepandaian dan talenta menulismu Mel.” Nasehat bunda yang terus menatapnya penuh harap, agar Melani menyadari untuk tidak sedih lagi.
“Mel, bukankah kita membanggakan orang tua tidak hanya dengan menjadi artis beken tapi juga dari juara lomba-lomba di sekolah dan itu sudah sering dulu kamu lakukan buat bunda” Nasehat Candra sambil memeluk Melani.
“Lihat ini Mel, sebuah surat kabar pagi ini menampilkan artikel yang kamu buat.” Kata Intan sambil berkemas untuk pulang dengan terlebih dulu juga memeluk Melani. Dan berpamitan juga pada bunda Fitria.
“Iya Kak, Mel akan berusaha untuk terus berkarya jadi wartawan agar bunda bangga sama aku.” kata Melani sambil melepas kakak-kakaknya pulang.
“Mel, Bunda tetap bangga apapun profesimu kamu, Nak!” Nasehat bunda Fitria sesaat setelah kepergian kakak-kakaknya dan mereka memasuki ruang tamu. Pelukan penuh haru pun terjadi malam itu.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day17
#PengenBeken_ProjectPop
Cari Blog Ini
Selasa, 23 Oktober 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar