DANGDUT
By : R. Puji Astuti
Malam itu begitu dingin, Larasati harus menerima tawaran kekasihnya Fatah untuk pergi ke pasar malam. Tempat yang bagi Larasati hanya untuk anak-anak bergembira. Hal tersebut yang membuat Laras tidak suka, tidak ada manfaatnya. Membuang-buang waktu saja.
"Kalau mau ketemu klien kenapa harus ke pasar malam sih?" Omelan Larasati saat membonceng Fatah.
"Dik, kliennya suka musik dangdut. Dia minta aku ketemu di sana." Kata Fatah mencoba memberi tahu Larasati.
"Apa sih enaknya dangdut! lebih keren pop apalagi slow rock," sungut Larasati.
Motor pun melaju menuju lapangan Panglima Jenderal Sudirman Ambarawa. Suara riuhnya setiap pedagang yang menjajakan setiap dagang mereka dengan cara berlomba-lomba menarik perhatian pembeli.
Suatu ilmu yang dia dapatkan dari perjalanan malam ini, dan tibalah kami pada suatu tempat yang berbeda di sini katanya untuk yang akan menikmati musik dangdut. Ada seorang sedang menikmati setiap lantunan suara. Ia pun menggoyangkan badannya setelah menikmati lagu tersebut.
Sementara Larasati masih fokus penglihatannya pada panggung, yang ia lihat adalah merdunya suara seruling bambu yang dipadukan dengan suara gendang yang rancak bana. Sementara Fatah dengan orang yang asyik bergoyang tadi sedang terlibat pembicaraan serius. Larasati menikmati sebuah lagu dan tanpa terasa ia mulai menggerakkan pinggulnya. Ia mengikuti setiap nada dengan goyangan yang riang gembira. Fatah mengamati semuanya dengan terheran. Orang yang antipati terhadap dangdut kini bergoyang.
"Dik, kamu suka?" tanya Fatah.
"Ternyata asyik ya Kak," jawab Larasati sambil tersenyum malu.
“Musik dangdut itu identik dengan riang dik, sekalipun ada nada sendu, tetap saja kita ingin bergoyang dan berdendang,” kata Fatah.
“Musik dangdut identitas bangsa kita, nggak perlu malu justru harusnya kita bangga bisa mencintai musik khas negara kita,” terangnya lagi.
"Musik dangdut sudah go Internasional, banyak bule yang mempelajari musik dangdut di Indonesia, bahkan Raja Dangdut Rhoma Irama mendapatkan gelar Doktor Honoris dari Amerika Serikat karena keahliannya di bidang musik dangdut, Dik." Kalimat ini di lontarkan Fatah sebagai sindiran pada Larasati yang lebih gemar lagu Korea di bandingkan dangdut.
“Gimana Dik, mau pulang sekarang?" tanya Fatah mencairkan suasana, karena terlihat muka gadisnya tersipu.
"Entar dulu ya Kak, kita nikmati lagunya dulu," jawab Larasati sambil memohon dan bersandar pada bahu Fatah. Sejak saat itu Larasati selalu menyukai lagu dangdut.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day11
#Terajana_RhomaIrama
Cari Blog Ini
Senin, 15 Oktober 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar