Cari Blog Ini
Rabu, 24 Oktober 2018
MENDUNG KELABU
By: R.Puji Astuti
Wanita itu berangkat kerja menggunakan angkutan umum, wajah sayunya nampak pucat. Riuh pagi mengiringi langkahnya, namun hatinya nampak sunyi. Sesampai di pabrik Golden Flower tempatnya bekerja, ia nampak berbaur dengan teman-temannya. Namun wajahnya memancarkan kabut hitam pekat yang siap untuk tumpah.
Wanita yang ku kenal bernama Larasati itu biasanya nampak ceria menyapa semua rekan kerja satu divisi maupun dari divisi lain. Kaki yang biasanya gesit berjalan itu kini seakan berat bergerak, sebagai supervisor dia biasanya akan banyak berbicara dengan anak buah di timnya. Namun kini diam seribu bahasa dan lebih banyak berkhayal. Aku melihatnya sangat terpukul dengan sesuatu, tapi apakah itu? ku pandangi matanya saat ia menatap wajahku sepertinya ingin berbagi.
Saat ia meneliti barang sebelum pengemasan, tiba-tiba perutnya dilanda nyeri hebat. Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun tubuhnya limbung. Ia tersungkur dan terhuyung ke lantai teman-temannya bersamaku menolongnya di larikan ke klinik perusahaan tersebut. Seorang Dokter Klinik mendeteksi tekanan darahnya sangat rendah.
“Kamu sakit apa?” tanyaku sesaat setelah ia siuman.
“saya tidak apa-apa, cuma kecapekan.” Jawab Larasati sambil tersenyum.
“Kalau kamu butuh istirahat, kamu ambil cuti saja!” perintahku sambil menatapnya iba. Ku tahu ia belum menggunakan jatah cutinya sama sekali, sehingga aku sering menawarkan padanya.
“Terima kasih pak Abimanyu, Laras butuh lemburan-lemburan itu untuk biaya sekolah anak bungsu saya.” Jelasnya sambil memandang keluar ruangan.
Hari pun berlalu kondisi Larasati semakin layu, wajahnya makin tirus dan tubuhnya makin kurus seperti tidak pernah makan. Siang itu aku makan di kantin perusahaan sambil mendengarkan sang biang gosip sedang mengobral omongannya yang bagai belati siap merajam siapapun.
“Kamu tahu nggak, Si Laras itu dengan suaminya sering di aniaya. Suaminya kan nggak kerja tapi suka main judi dan mabuk.” Kata Ratih sang biang gosip.
“Makanya ya dia dekat sama pak Abimanyu, mungkin dia selingkuh sama beliau.” Kata Bella temannya.
“Iya bisa jadi ya, ih lihat tuh orang yang kita bicarakan nonggol.” Kata Ratih sambil memandang ke arah Larasati yang berjalan mendekat ke arah mereka.
Namun sebelum Larasati sampai ke meja itu, mereka sudah kabur duluan. Kesedihan nampak di wajah Larasati. Melihat itu ku hampiri dia dan ku pesan dua buah mangkok bakso, lalu ku tarik tangannya untuk duduk di salah satu kursi. Kutatap lekat wajahnya, ku cari jawaban atas seribu tanya yang terpendam.
“Sebenarnya kamu sakit apa, Ras?” tanyaku sambil terus memandangi wajahnya.
“Saya terkena penyakit rahim Pak, anjuran dokter saya harus kemoterapi ...,” tiba-tiba buliran air mata jatuh membasahi pipinya.
“Saya tidak bisa membayangkan saya kuat menjalani itu,” lanjutnya sambil ter isak, kini air mata itu sudah tak mampu terbendung. Aku hanya terdiam menyimak setiap kata-katanya.
“Bapak lihat sendiri kan, teman-teman sudah menjauhi saya. Apalagi jika saya harus kemoterapi lalu rambut saya rontok dan botak mereka pasti lebih jijik memandang saya.” Ia masih terus berbicara diantara tangisannya. Sedih hatiku saat anak buahku menderita tapi belum bisa membantu.
Pembicaraan itu membuat pikiranku selalu tertuju pada Larasati, namun sudah dua hari ia tidak masuk kerja. Aku pun mencoba menghubunginya, dan ia menerima panggilanku.
Walau ia tidak memberitahu ku di mana ia sering berharga.
“Iya pak, maaf saya tidak kuat bertahan.” Jawabnya saat aku menanyakan kabarnya.
Sementara Larasati tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit, dan tangannya terikat selang infus. Ia hanya sendirian tak ada sanak saudara yang menemani, karena suaminya semenjak semalam tidak hadir di tempat itu. Menatap pasien lain yang di tungui saudara-saudaranya, batinnya merintih kesakitan.
Kehadiranku bersama istriku seperti membuatnya sedikit bahagia. Istriku menggengam tangannya menasehatinya agar mau melakukan kemoterapi, karena itu jalan satu-satunya untuk mencegah penyakitnya makin ganas.
“Ras, jangan kau pikirkan soal biaya, dan soal pekerjaan, kamu harus yakin kuat menghadapinya.” Kataku sambil merengkuh tangannya mentransfer aliran semangat kepadanya.
Nampak wajahnya mulai berseri diatara keraguan mengharap. Sesaat kami bertiga saling berpegangan tangan. Aku pun melihatnya mulai tersenyum, dan kami berjanji untuk saling menjaga. Terlihat pula wajah nya mulai bersemangat untuk menghadapi penyakitnya.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day18
#UsahKauLaraSendiri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar