Nasehat Mama
By : R.Puji Astuti
Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adik Anindita sedang belajar mewarnai buku bekas dari kakaknya yang sudah tidak terpakai. Tiba-tiba saat Mama sedang mengajari menelaah soal cerita tentang FPB dan KPK, Anindita merengek minta digambarkan ayam. Kakaknya pun kesal lalu menulis dengan di tekan-tekan.
Belum selesai Arzetha mengerjakan soalnya pensilnya patah. "Ma, pensilku patah ...," kata Arzetha diikuti tangisan olehnya.
"Kenapa harus nangis Kak, harusnya kan diraut pakai rautan atau pisau cutter dong Kak!" Nasehat mama sambil mengelus rambut kakak yang panjang.
"Ma, pisau cutternya tadi aku pakai mainan. Sekarang masih di luar sana, Ma!" kata Arzetha sambil menunduk takut dimarahi mamanya.
"Kak, kenapa menunduk tunggu apalagi ya segera diambil dong pisaunya." Kata Mama sambil menggambarkan adiknya.
Namun Arzetha malah mainan buku sambil bernyanyi, "Mah, aku takut ngambil sendirian. Entar kalau ada setan gimana, Mah?" katanya begitu memandang mata mamanya menatapnya tajam.
Dengan geram akhirnya mamanya mengantarkan ke halaman samping rumah. Di ikuti Anindita yang menangis karena tidak mau ditinggal sendirian.
Diantara pisau cutternya Arzetha terdapat potongan roti kecil-kecil yang dibawa beberapa semut kecil-kecil. Sementara ada semut yang lain masuk lubang yang kecil di dalam tanah.
"Tuh Kak, lihat semut aja masuk lubang tidak takut gelap." Kaya mama dengan lembut.
"Apa nggak ada setannya ya Mah di tanah?" tanya Anindita dengan polosnya sambil berekspresi ngeri.
"Semut nggak kenapa-kenapa kan keluar masuk tanah? Jadi di dalam tanah nggak ada setan Dik," kata Mamanya menjelaskan dengan cermat.
"Cacing tanah hidupnya di tanah, tapi mereka nggak jahat, tidak makan sesama makhluk hidup." Kata Mamanya.
"Mah, semut punya mama papa seperti Anindita ndak ya?" tanya Anindita dengan polosnya Mama tidak menjawab hanya tersenyum sambil mengacak rambutnya.
Mereka masih mengamati semut yang berjalan beriringan sambil membawa makanan.
"Lihat Nak, semut bergotong royong membawa roti mereka nggak rebutan, kalau bertemu teman mereka salaman. Mereka akur banget ya, Nak!" kata Mama sambil menggandeng anak-anak ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar