BISUL
By : R.Puji Astuti Feat Yuni Siti Nuraeni
Mail memeluk Rima sesampainya ia dirumah. Rasa rindu itu begitu membuncah. Satu pekan ini mereka tak berjumpa karena Mail ditugaskan diluar kota. Dalam satu bulan Mail memang selalu keluar kota untuk sebuah tugas yang tak bisa ditinggalkan. Rima pun selalu menyambut hangat pelukan suami yang baru 1 tahun menikahinya itu.
"Aduh.. sakit tau", Rintih Rima saat Mail suaminya memeluknya erat.
Rima pun seketika menepis kedua tangan kekar yang memeluknya itu.
"Ah Neng, masa akang peluk gini aja sakit? kan biasanya juga minta dipeluk, lama lagi." Ucap Mail yang baru saja pulang dari luar kota.
"Ini lho kang, lengan eneng bisul," kata Rima sambil menggulung kaos lengan pendek yang dipakainya.
"Ya Allah Neng , itu bisul udah merah, bengkak dan bernanah begitu, sudah lama apa ya?" tanya Mail sambil mengusap si bisul.
"Iya kang sudah 4 hari ini." Jawab rima sambil menyandarkan bagian lengannya sebelah kiri kedada Mail yang bidang.
Mail pun mengusap pelan bisul dilengan kanan isterinya itu dengan tangan kirinya.
"Nah gitu Kang, enak kalo diusap-usap gini." Rayu Rima agar Mail tidak menghentikan usapan tangannya itu.
"Neng, tau gak? katanya bisul itu tumbuh karena seseorang sedang menyembunyikan perasaan bersalahnya." Ucap Mail dengan nada selidik.
"Ah masa sih Kang! ada-ada aja, apa hubungannya?" jawab Rima tak percaya, ia pun mulai gelisah.
"Akang gak tau sih apa hubungannya, tapi bisa saja itu memang benar soalnya waktu kecil dulu akan sering sekali bisulan. Saat itu akang membuang sandal aa Mulyo, karena kesal tidak dibelikan sandal baru juga. Tapi akang bilang pada aa Mulyo dan orangtua akang kalau sandalnya jatoh ke sungai."
"Satu hari kemudian bisul tumbuh di lengan akang. Saat itu nenek datang kerumah dan beliau melihat lengan akang bisulan, nenek langsung tau kalau akang sudah melakukan perbuatan yang tercela."
"Akang saat itu langsung teringat kesalahan akang. Dan langsung meminta maaf pada aa Mulyo. Selang beberapa hari bisul akang juga kempes sendiri." ucap Mail
"Pernah juga akang bisul di pantat, karena sering sekali kentut tapi menuduh orang lain yang kentut, dan bisul pun tumbuh". Tambah Mail sambil senyum dan tertawa lebar karena teringat masa kecilnya.
Entah kenapa Rima tak ikut mentertawakan cerita suaminya itu. Ia hanya terdiam, dan seketika itu suasana menjadi hening
Rima semakin gelisah, apakah suaminya juga akan tahu bisulnya ini karena apa? Ah entahlah ia masih terbuai dengan usapan lembut tangan suaminya.
Malam harinya seusai makan malam, Rima teringat lagi akan bisul dan kata-kata suaminya. Rima berfikir haruskah ia jujur agar bisulnya segera sembuh. Namun ia takut jika ia jujur suaminya akan marah, Rima pun merasa gundah gulana, dan ia tidak bisa tertidur.
Lantunan dengkuran Mail, memperparah keadaan Rima. Ia bolak-balik berganti posisi agar matanya dapat segera terpejam, Ia pun mengambil tasbih untuk berdzikir. Namun hingga dentang jam berbunyi tiga kali mata itu tak mampu terpejam sedikit pun.
Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi, berwudhu dan mendirikan dua rakaat shalat tahajud. Ia berdoa pada Allah agar diberikan kemudahan untuk berbicara dengan suaminya dan berakhirlah semuanya.
Mail terjaga dari tidurnya, ia melihat istrinya begitu khusuk berdoa membuatnya terharu. Namun ia kemudian teringat bisul di ketiak istinya, kebohongan apa yang disembunyikan istrinya. "Sudah selesai Neng, tumben sholat tahajud?" tanya Mail pada istrinya.
"Iya Kang, eneng pengen cepet punya anak. Makanya kita harus rajin sholat malam biar segera diberi sama Allah," kilah Rima menyembunyikan kegundahan hatinya.
***
Pagi harinya seperti biasa keluarga itu makan pagi bersama, Rima adalah ibu rumah tangga yang hebat dalam hal masak dan dandan. Masakan apapun bisa ia buat, sehingga ia punya usaha catering di rumah dan membuka kios jajan pasar di dekat Cihampelas Walk. Ia memperkerjakan beberapa karyawan untuk membantunya.
Sebelum Mail pergi ke kantor, Rima melepas kepergian suaminya sampai pintu gerbang. Mail pun mengecup istrinya dengan mesra, walaupun dalam hatinya masih ada keraguan akan apa yang disembunyikan istrinya.
"Neng, nanti kalau pulang dari toko jangan malam-malam ya? Mungkin akang nggak lembur hari ini!" pinta Mail pada Rima.
"Iya Akang," jawab Rima sambil melambaikan tangan pada suaminya. Ia pun setelah itu bersiap untuk berangkat ke toko sambil membawa kue brownies dan talam pesanan orang.
Di Toko pelanggan Rima sangat banyak hari ini, Ia dan karyawan hingga membuat kue sampai dua kali. Kecapekan nampak di wajah Rima, ia pun istirahat di kursi depan meja kasir. Belum ada sepuluh menit ia istirahat, tiba-tiba gawainya berdenting.
"Gimana apakah jadi mau ketemu?" bunyi pesan WA yang bertuliskan nama Lukman.
Rima pun tersenyum dan membalas, "Jadi dong! Aku kan sudah penasaran sekali."
"Oke, aku jemput jam setengah empat ya!" balas Lukman dalam pesannya kembali.
Acara bersama Lukman sore itu ternyata tidak seperti harapan Rima, dapat berlangsung secara singkat. Rima benar-benar gelisah ketika waktu terus berlalu, Selepas Isya Rima baru dapat pulang. Ia memendam ketakutan akan kemarahan suaminya, dalam benaknya selalu mengingat janjinya pada suaminya tadi pagi.
Sesampainya di rumah Rima berharap suaminya belum datang, namun saat membuka pintu gerbang, ia sudah melihat Pajero suaminya terparkir di garasi rumahnya. Ia pun mengendap-endap berharap suaminya tidak tahu, niat hatinya ia ingin segera menyiapkan makan malam untuk suaminya.
"Neng, tadi pagi kan sudah janji pulangnya tidak malam-malam. Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Mail pada istrinya.
"Maaf Kang, hari ini pelanggan banyak sekali. Aku dan Santi sampai harus memasak tiga kali," jawab Rima berbohong.
"Kenapa kamu terlihat pucat, Neng! kamu sakit ya?" tanya Mail penuh perhatian. Ia ingin kejujuran Rima, namun sepertinya istrinya masih belum terbuka.
"Apa perlu aku antar ke dokter, Neng?" tanya Mail sambil mengamati Rima.
"Tidak usah Kang, paling cuma kecapekan. Aku siapkan makan malam dulu ya, Kang!" jawab Rima untuk menutupi semua yang ia rahasiakan dari suaminya.
***
Beberapa hari Rima selalu pulang malam, Kadang Mail pulang lebih awal. Kecurigaan Mail semakin menjadi, pasti Rima menyimpan kebohongan besar. Apalagi dua hari ini setiap kali jam empat sore, Mail selalu telepon ke toko untuk memastikan apa yang di kerjakan istrinya hingga selalu pulang malam.
"Neng, kenapa pulang malam lagi? tadi akang telpon ke toko, kata Santi, eneng sudah pulang duluan." Tanya Mail sambil menahan amarah di dadanya.
"Maaf Kang, eneng tidak langsung pulang. Tadi Eneng mampir dulu ke rumah Amel, kangen Kang! Oh iya Amel sudah lahiran seminggu yang lalu, Kang." Kata Rima sambil menutupi apa yang terjadi.
"Eneng bohong, Akang tidak percaya!" Mail marah tapi tidak dapat meluapkan emosinya, Ia lebih memilih pergi dan tidak kembali sampai esok hari.
Rima gelisah kemana suaminya sampai pagi kok tidak pulang. Ia bersedih harusnya ia berterus terang tentang dirinya. Ia mencoba menghubungi gawai suaminya, namun tidak aktif.
"Kang, maafkan eneng! Akang dimana, kenapa tidak pulang?" sebuah pesan ia kirim ke nomor suaminya. Sebenarnya ia ingin mencari suaminya, namun pesanan kue untuk hari ini sangat banyak sehingga ia tidak dapat meninggalkan tokonya.
Seperti biasa sehabis dari toko, Rima bertemu dengan Lukman. Ia tidak tahu kalau hari ini semua kegiatannya diawasi Mail. Saat ia berjabat tangan dengan Lukman, Mail langsung turun dari mobilnya dan menarik tangan kiri istrinya.
Rima sempat terpelanting, "Eneng, jahat ternyata selama ini kepercayaan Akang Eneng nodai, Neng tega selingkuh!" kemarahan Mail kini tidak dapat terbendung lagi.
"Akang, biar Neng jelaskan siapa dia!" pinta Rima sambil meronta dari pegangan tangan suaminya.
"Sudah jelas Akang lihat dengan mata telanjang, pulang sekarang!" bentak Mail sambil menyeret Rima ke mobilnya.
Rima dimasukkan paksa ke dalam mobil, tiba-tiba wajahnya pucat pasi. Mail tidak peduli dengan kondisi istrinya, Ia langsung mengemudikan mobilnya pulang.
Sesampainya di rumah, Mail turun sambil membanting pintu mobil keras-keras berharap istrinya bangun dan turun sendiri. Namun setelah Mail sampai di kamarnya, Ia marah besar kenapa istrinya masih terlelap di mobil. Ia pun membuka pintu mobil dan membentak keras tapi istrinya tidak bergeming.
Mail mencoba menyentuh kepala istrinya lemas, pucat pasi dan dingin seluruh tubuhnya. "Eneng kenapa?" tanyanya sambil gugup, ia langsung melarikan mobilnya ke rumah sakit.
"Sus, tolong istri saya pingsan sendari tadi Sus!" kata Mail ketakutan. Setelah istrinya dibawa masuk ke ruang IGD, ia pun gelisah sambil berjalan mondar-mandir tanpa arah.
Ia ingat sahabat istrinya yang paling dekat hanya Amel, ia mencoba mengabari Amel. Ternyata Amel datang dengan laki-laki pasangan selingkuh istrinya.
"Masih berani ya menampakkan muka di hadapanku? Eneng tidak butuh kamu!" suara kemarahan Mail menggema.
"Kak, laki-laki ini suami saya. Selama ini memang Rima sering di jemput kang Lukman, karena kang Lukman bekerja di rumah sakit ini.
"Lalu apa hubungannya dengan istri saya?" tanya Mail masih dengan nada tinggi.
"Sebenarnya aku tidak di perbolehkan bicara soal ini, tapi supaya Kak Mail tahu Rima di identifikasi terkena penyakit kanker payudara. Selama ini Ia baru sekedar cek dan tes laboratorium." Jelas Amel penuh amarah.
Tiba-tiba tim dokter keluar, Mail pun bergegas mendekat. "Gimana kondisi istri saya Dok?" tanya Mail yang begitu gelisahnya.
"Istri Anda butuh istirahat yang banyak, kami berharap sebelum Minggu agar bisa Segera di angkat kankernya." kata dokter sambil berlalu menuju kantornya. Tubuh Mail terasa lemas saat mendengar kata-kata dokter tersebut.
"Maafkan akang Neng, kenapa Eneng sembunyikan penyakit Eneng dari akang." Kata-kata penyesalan akhirnya di ucapkan Mail pada Rima. Amel dan Lukman memberi saran agar Mail terlihat tegar setelah tahu penyakit Rima, karena ia butuh semangat dari orang-orang terdekatnya.
Sumber pict: http://google.com
#MakMoodMenulis
#TantanganMakMoodMenulis9
#Ceritaku
#ceritakita
Cari Blog Ini
Minggu, 14 Oktober 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar