Damar Namaku
By: R.Puji Astuti
Damar hanya anak seorang tukang kayu, tidak tampan tubuhku kurus tinggi. Maka di julukilah aku tiyang listrik berjalan.Aku selalu menyendiri se usai sekolah, bermain di belakang rumah ayahku. Lumayan luas tanah bapakku, peninggalan kakekku. Hanya sebuah bola basket, kumainkan sesuka hatiku. Hingga suatu saat ada temanku yang hobi basket melihatku memainkan benda bundar itu.
"Tiang, ternyata kamu jago basket juga?" seru Rico.
"Cuma main aja kok, Ric!" jawabku begitulah teman-teman memanggilku.
"Kenapa nggak ikut tim basket sekolah aja?" tanya Riko sambil duduk di bangku besar yang ada di teras belakang.
Aku pun duduk di sudut sebelah bangku itu, "Siapa yang mau pilih aku, Ric?" tanyaku.
"Lho kan nggak ada pilih memilih di bidang olah raga, asal mampu ya dapat masuk." sergah Rico.
"Oke lusa kan ada penjaringan bakat untuk bola basket, kamu ikut saja ... oke!" lanjut Rico.
" Semua yang ikut kan anak-anak gedongan, Ric. Keren-keren, sementara aku ini apa? Cuma cecunguk, kata Hery tempo hari." Jawabku penuh kepesimisan.
"Gini dech, pokoknya kamu lusa harus ikut! aku yang jadi pendukungmu," kata Rico memaksa sambil menepuk bahuku.
"Wah hari sudah petang nih pamit dulu ya, Yang! Pokoknya kamu harus ikut." pinta Rico lagi. Aku hanya terdiam yang ada dalam hatiku bayangan si Hery remaja tampan tinggi tegap, si Juna bintang lapangan SMA Merah Putih itu. Si Robi yang tajir dan playboy, duh pasti aku jadi bulan-bulanan di kelompok yang katanya borju itu.
Pagi itu SMA Merah Putih begitu riuh, sebuah sekolah favorit di kota Metropolitan ini. Mobil mewah berjajar di pelataran sekolah. Seakan ajang show room dadakan, maklum yang sekolah di situ banyak anak pengusaha sukses dan pejabat teras.
Teriakan gadis-gadis molek dan manja bergelora di suatu gedung besar dan megah itulah lambang kegengsian sekolah itu. Terlihat pemuda-pemuda tampan dan gagah, di balut dengan pakaian yang serba mewah dan sesekali teriakan histeris gadis-gadis belia.
Membuat hatiku semakin ciut, aku hanya duduk di sudut lapangan yang megah itu sambil menunggu giliran di uji oleh team guru. “Perhatian ...!” Suara keras dari sound sistem membuat riuhnya suasana menjadi hening seketika.
"Anak-anaku hari ini kalian akan di uji dalam hal permainan bola basket. Mengingat tahun ini kita kekurangan personil dalam team bola basket, " suara bapak Kepala Sekolah yang terdengar dari pengeras suara itu.
"Dan hari ini kita kedatangan tim penguji dari pelatih team nasional kita, yaitu bapak Saragih." lanjut bapak Kepala,yang di sambut gemuruh semua yang hadir.
Satu demi satu siswa SMA Merah Putih yang telah mendaftar, telah di uji oleh tim penilai. Tak luput akupun telah memamerkan kebolehanku memainkan si benda bundar itu. Meskipun ejekan dan celaan dari teman-teman. Namun itu semua sudah aku anti sipasi, toh yang mereka unggulkan hanya materi.
Tiba saatnya untuk pengumuman dari 18 orang yang dipilih hanya aku yang disambut dengan celaan," Huuuu ...,"terikan mereka.
Yang membuat aku sedikit sakit hati yaitu celetukan seorang gadis, Soraya namanya katanya sih primadona di sekolah ini dan juga anak pejabat tinggi.
Hari pertama latihan aku sedikit nerves bukan dari permainan tapi dari penampilan teman-teman yang selalu pamer materi dan seperti terkotak-kotak. Ada golongan atas dan menengah bahkan ada celetukan yang keras dari mulut Roby."hay...! sekarang kita dah komplit nih,"
"Apa sih?" sahut Juna.
"Ada kelas bawah," ejek Hery dan itu dah biasa di sekolah itu.
Aku disekolah itu bukan karena kebetulan tapi karna prestasi. Aku bisa menenangkan Olimpiade Sains Tingkat Profinsi kala itu dan di angkat anak oleh salah satu guru di situ, tanpa itu tak mungkin aku ada di sekolah itu.
Hari berganti dengan berat dan penuh penistaan akan status kemelaratanku, tapi aku semakin kuat di dorong dan di suport oleh temanku Rico yang anak konglomrat nomer satu di kota itu. Meskipun ayahnya super tajir tapi kehidupan sehari-harinya sederhana tidak foya-foya, bahkan dia ke sekolah hanya naik motor. Tidak seperti anak gedongan lainya, wajahnya tampan kulitnya putih bersih. Meskipun sederhana dia terlihat sangat berwibawa, mungkin itu alasan tidak ada anak yang berani mengejek dia.
Untuk kesekian kalinya aku ikut bergabung dalam tim inti basket sekolah ini, dan tak pernah sekalipun tim ini kalah selalu dan selalu jadi juara. Hari senin begitu panas upacara di halaman sekolah begitu lama bapak Kepala Sekolah dalam sambutanya. tapi ada yang membuat kami terhenyak, ketika akan di umumkanya. Bahwa salah satu pemain basket sekolah ini akan di rekrut ke tim nasional, seketika anak anak bersorak gemuruh di lapangan sekolah itu.
Dan teriakan gadis gadis cilliders berteriak meneriakkan nama pujaanya. Bahkan Soraya gadis super cantik itu meneriakkan," Hidup Robi ...!"
"Tenang tenang .. !" seru bapak Kepala Sekolah, kemudian di hening suasana yang menunggu siapa anak istimewa tersebut.
"la adalah Damar Jati ...!" anak-anak pun bersorak, beberapa anak langsung mengucapkan selamat kepadaku tak ketinggalan Riko dengan riang memelukku.
"Selamat Tiang, kamu adalah tiang bendera penyangga panji-panji bendera kebanggaan kita." Ucap Rico.
Dan yang membuat aku meneteskan air mata, ibu angkatku sekaligus guru kebanggaanku lbu Hardaning puji Gumaya memelukku sambil meneteskan air mata keharuan. "Selamat Nak, kau kebanggaan ibu!”
Setahun kemudian aku mampu menjadi atlet ASEAN Games dan reguku mampu membawa medali emas untuk negeri ini. Saat Sang saka Merah Putih dikibarkan pada urutan teratas dan lagu Indonesia Raya di kumandangkan aku merinding dan menanggis haru.
Cari Blog Ini
Kamis, 18 Oktober 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar