Cari Blog Ini

Selasa, 16 Oktober 2018

CEMORO SEWU
By : R.Puji Astuti

Hari itu Arya melakukan pendakian bersama rekan-rekan MAPALA Garba Wira Buana. Perjalanan di mulai pagi hari setelah sarapan di Basecamp Cemoro Sewu sambil menikmati pemandangan Gunung Lawu yang memukau. Kabut putih menyelimuti udara, dingin menyusup sampai tulang-tulang.

Sementara rekan-rekannya mengisi perlengkapan logistik, Arya sedang menulis pesan kepada gadisnya Larasati. “Ras, maafkan aku baru kasih kabar, aku naik gunung lawu!” pesan Arya dari gawainya.

Belum sempat ia menutup layar gawainya, sebuah pesan masuk dan langsung ia baca. “Ya, kenapa kamu bohong? Katanya tidak akan mendaki lagi setelah kejadian setahun yang lalu.” Kata Larasati.

“Ras, aku tidak bisa menahan diri. Jiwaku ingin terus mendaki, doakan aku selamat!” balas  Arya  dalam pesannya.

“Aamiin, ku tunggu hadirmu senin pagi!” jawab Larasati.

“Oke, akanku bawakan edelwis untukmu. Maaf ini teman-teman dah menungguku, I Love You forever!” janji Arya sembari menutup layar gawai dan memasukkan ke dalam tas gunungnya.

Perjalanan dari Cemoro Sewu menuju pos pertama masih landai, Arya menapaki jalan bebatuan yang tertata rapi. Teman satu timnya terdiri dari Arya, Bima, Fajar, Baskara, Mila dan Kirana. Sementara yang lain bercanda dalam perjalanan, Kirana sibuk merayu Arya bahkan bersandar di bahu Arya sambil berjalan.

Pemandangan ladang warga, kebun teh dan hutan pinus mampu di lalui mereka. Keelokan alam diiringi nyanyian burung menambah sejuk alam yang mereka pijak. Pos pertama hampir tiba, saat mata Arya memandang sebuah sendang yang bernama Sendang Panguripan. Mereka berenam mengisi kembali botol-botol yang sudah kosong.

Pos pertama mampu terlewati, derap langkah menyusuri hutan pinus disertai bau belerang dari bebatuan yang terinjak menemani mereka hingga pos kedua. Rombongan Arya beristirahat dan mengisi perut saat sampai di pos kedua. Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan ke pos ketiga.

“Kak Arya, aku takut jangan cepat-cepat jalannya!” kata Kirana sambil memeluk Arya, tatapan mata tajam  melepas pelukan itu.

“Kak, bau apa ini?” renggek Kirana lagi setelah sampai di pos ketiga. Bau dupa menusuk hidung membuat Kirana muntah-muntah. Tapi  ia tetap bersikeras melanjutkan ke pos berikutnya.

Perjalanan yang miring dan licin membuat Kirana meraih tangan Arya untuk menopang keseimbangan namun tanpa disadari ia tergelincir. Karena ia memegang tangan Arya, akhirnya Arya pun ikut tergelincir. Luka robek di kaki Arya yang terpental ke bebatuan menyisakan darah segar yang terus menetes. Sementara Kirana pingsan, rombongan itu berusaha mengobati luka Arya dan menyadarkan Kirana.

Mereka terpaksa menunda perjalanan, padahal udara dingin semakin membasahi pakaian mereka. Mila tidak tahan dengan kedinginan itu bergetar hebat. Sementara kabut pekat menutupi sekeliling mereka. Setelah beberapa saat semuanya siap melanjutkan pendakian lagi. Walau senja mulai beranjak dan kabut pekat menutupi pandangan mereka.

Mereka berjalan dan terus berjalan  tapi ternyata mereka hanya memutar tidak mampu menemukan jalur mereka kembali. Karena lelah mereka kembali istirahat lagi. Tapi tekad mereka untuk segera mencapai puncak lawu begitu kuat.

“Ayo kawan kita cari lagi jalur kita ke puncak!” Seru Arya menyemangati teman-temannya.

“Tapi hari sudah senja, apa kita mampu memandang saat malam gelap nanti?” tanya Mila yang sebenarnya takut kegelapan.

“Benar kata Arya, mari kita bangkit dan kembali fokus ke puncak.” Sahut Baskara.

Setelah mereka berkeyakinan akan sampai di pos kelima, mereka pun sampai. “Ayo istirahat makan sebentar disini.” Kata Baskara.

“Jangan kita istirahat di Sendang Derajat saja!” kata Arya yang diiyakan rekan-rekannya.

Perjalanan menuju Sendang Derajat menimbulkan kekhawatiran rekan-rekannya terhadap Kirana. Tubuh Kirana nampak lemas mereka khawatir dia tidak dapat memanjat. Tapi berkat bantuan para lelaki mereka sampailah di Sendang Derajat. Lelaki mendirikan tenda untuk sekedar istirahat.

Saat malam mulai merangkak mereka melanjutkan perjalanan karena mereka ingin melihat fajar dan matahari terbit di puncak Hargo Dumilah. Menuju puncak ini sangatlah sulitkarena mereka harus merangkak terlebih dahulu sepanjang jalan. Kirana mengalami kram kaki, sementara Mila terluka kakinya. Hal tersebut mengakibatkan mereka tersendat lagi untuk menuju puncah Hargo Dumilah.

Saat semua sudah mampu merangkak kembali, tiba-tiba Arya bertumpu pada batu yang lapuk, dan tergelincir masuk ke jurang. Namun terdapat batang pohon di antara jurang terjal tersebut. Sebuah tali di lemparkan teman-temannya dan mereka berlima berusaha menarik Bima.

“Alhamdulillah, aku masih selamat.” Kata Arya sambil memeluk mereka berlima. Walau perih dirasakan di seluruh tubuhnya Arya tetap meminta segera meneruskan perjalanan.

Kabut pekat menutupi pandangan mereka namun pemandangan nan elok mulai nampak sebelum mereka benar-benar mencapai puncak Hargo Dumilah. Fajar mulai menyingsing, saat tangan dan kaki mereka mulai menapaki puncak itu. Mereka berpelukan melepas penat sambil menikmati keindahan alam sebelum pagi berlalu.
“Laras, andai kau tahu nikmatnya di puncak sini. Aku akan lebih bahagia bersamamu di sini.” Bisik Arya sambil terus menghirup udara sejuk itu.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day12
#SabdaAlam_Cryshe



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anakku Sayang Anakku Malang

Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...