Anakku Sayang Anakku Malang
By: R.Puji Astuti
Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi kesebelas anaknya. Sementara Gundi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, walau semua masih terlelap dalam tidurnya. Trimo menyusuri jalanan penuh becek, karena semalaman tadi hujan tidak reda-reda.
Ia sudah lama berjalan tapi belum juga menemukan makanan, sementara pikirannya bercabang ke kondisi rumahnya yang semalam kena banjir. Dalam benaknya ia ingin segera pulang agar bisa membuat tanggul agar rumahnya tidak basah oleh banjir lagi.
Tapi ia belum mendapatkan makanan sedikit pun, nafasnya tiba-tiba sesak karena banyak yang harus dipikirkannya. Ia berhenti sejenak sambil menatap ke jalanannya dengan tatapan sendu. "Kalau aku pulang mereka makan apa?" guman Trimo.
"Tapi kalau aku tidak pulang, mereka pasti kedinginan. Aku harus gimana nih?" Kebingungan Trimo semakin menjadi saat dilihatnya mendung di langit makin menghitam. Hati kecilnya terus berdebat, ia mulai melangkah terus dengan lesu.
Saat keputusasaannya memenuhi relung hatinya, sorot matanya menangkap roti di buang ke tong sampah. Ia pun dengan gesit mengambil roti tersebut dan membawanya pulang. Ia tak peduli itu roti bekas, sudah kadaluarsa atau belum. Dalam benaknya, kesebelas anaknya pasti senang melihat ia membawa makanan pulang.
Ia berjalan dengan cepat sambil terus tersenyum, kadang rotinya terjatuh karena lelah kakinya berjalan. Ia punggut kembali roti itu, hingga sampai di rumah Trimo memanggil istrinya, "Buk, ini makanan untuk kita hari ini!"
Kesebelas anaknya pun bersorak kegirangan dan langsung menyerbu roti-roti itu. Trimo dan Gundi pun tersenyum menatap mereka bahagia. Namun tiba-tiba kesebelas anaknya memuntahkan apa yang dimakan sambil mengeluh sakit perut dan mereka menghembuskan napas terakhir mereka.
Akhirnya kesebelas anaknya mati, dan Gundi memeluk mereka dalam pelukannya. Sementara Trimo tertenggun kecerobohannya menewaskan seluruh anaknya. Ia tidak menyadari jikalau rotinya beracun.
Setelah lama menangis dan bersedih, sepasang tikus itu pun pergi dengan duka yang mendalam.
#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#3DayChallengeFikmin
#Day1_TokohBukanManusia
Resnaning
Bunda Arzetha Anindita
Cari Blog Ini
Selasa, 06 November 2018
Sesuatu Yang Tersembunyi
BY : R.Puji Astuti
Segerombolan anak desa sedang asyik bermain bola, “Mungkin mereka ingin jadi pemain bola seperti Evan Dimas,” pikirku saat melihat mereka dari kaca jendela rumahku. Tiba-tiba buliran air menuruni pelupuk mataku, andai kakiku tak seperti ini aku ingin main bola bersama mereka. Puas aku memandang pemandangan di luar sana, aku bergeser lagi ke meja belajarku.
“Kamu harus fokus untuk meraih mimpimu, kamu pasti bisa.” Kata teman ayahku dari Semarang kemarin, beliau melihat bakat lain di diriku.
Rasanya memang benar kata-kata ibuku setiap kali aku menangisi kekuranganku, “Apapun dirimu kalau kau tekun pasti ada yang menonjol darimu.”
Semanggat itu yang aku tanamkan dalam diriku saat ini, setelah akhirnya aku melewati cibiran semua temanku di SDIT Insan Cendekia Salatiga. “Anak cacat mau ikut Olimpiade Sains? kan sudah di wakili Aulia.” Kalimat itu banyak yang muncul saat aku meminta pak Seno mendaftarkan diriku, bahkan dari beberapa guruku juga.
Kesedihan tidak menyurutkan niatku, bahkan saat pak Seno memanggilku ke ruangan guru. “Fikri, apakah niatmu sudah bulat mengikuti ajang ini?” tanya pak Seno seolah meragukan kemampuanku, aku hanya mengangguk.
Hari yang aku tunggu telah tiba, saat kejuaran tingkat kecamatan nilaiku melejit paling tinggi, hal tersebut membuatku mulai banyak yang mendekati. Teman-temanku mengagumi kelebihanku. Aku berhasil melalui tahap demi tahap menuju kejuaraan Nasional, dengan belajar ke Semarang.
Dua hari aku harus melalui perlombaan tingkat nasional, setelah sebelumnya aku di karantina selama satu bulan di Jakarta. Saat pengumuman tiba, hatiku merasakan kegundahan dan ketakutan. Ketakutan akan kegagalan menyelimuti jiwaku. “Pemenang piala emas berikutnya adalah Akbar Fikri Ramadhan,” tangisan itu terpekik dari mulutku.
Semangat berkobar di dadaku sebagai tim Garuda yang berjuang pada perhelatan International Mathematics and Science Olympiade di Xejhiang China. Aku bisa meraih emas lagi aku berucap syukur, "Terima kasih Allah di balik kekuranganku ada kelebihanku."
#TheFigther
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#3DayChalengeFikmin
#Day2FikminGarudaDiDadaku
Selasa, 30 Oktober 2018
Smart School
By: R.Puji Astuti
Larangan membawa gawai di SMP Budi Utomo sangat ketat walau masih banyak siswanya yang melanggar. Siang itu saat guru muda itu lagi mengajar tiba-tiba lirikan matanya tepat pada dua orang siswanya yang asyik memperhatikan bawah meja. Guru itu pun mulai menerangkan tapi tetap fokus ke dua siswa tadi, setelah dia mengamati dia tahu siswa tersebut lagi melihat video di bawah mejanya.
Tanpa menunggu lama Umar, guru muda itu mendekati dua siswa tersebut. Siswa itupun kaget langsung memasukkan gawai ke lacinya, Umar menggeledah laci siswa itu lalu menemukan sebuah Gawai yang masih mempertontonkan video memainkan Mobil Legend.
Umar menyita gawai tersebut, tapi menurut laporan guru dan siswa masih banyak siswa lain yang membawa gawai ke kelas. Umar guru muda itu pun miris membayangkan nasib siswa-siswi nya yang sudah kecanduan gadget.
Ia kemudian menghubungi temannya di Malaysia, curhat tentang kondisi sekolahnya. Temannya itu mengajar sebagai guru untuk WNI di Malaysia. Amir yang pernah studi banding ke sebuah sekolah di Malaysia, Ia memaparkan sebuah konsep sekolah yang menggunakan gawai dan alat elektronik untuk pembelajaran, absensi dan penyusunan laporan absensi dan masih banyak lagi.
Amir memberi kontak seorang dosen Unnes yang ternyata berasal dari desanya Umar. Dosen itu bernama Bryan, ternyata pihak kampus ingin sekali mengembangkan Smart School di SMP Budi Utomo.
***
"Konsep yang saya usung adalah mengubah sistem pendidikan yang monoton menjadi bermakna dengan gawai" kata Bryan memulai penjelasannya.
Bryan pun menjelaskan panjang lebar tentang Smart School, perlahan-lahan Umar dan teman-teman gurunya mengajar menggunakan fasilitas gawai. Fungsi gawai yang biasa digunakan siswa-siswinya untuk melihat hal-hal yang tidak berguna kini berganti ke hal yang berguna.
Gawai bisa untuk presentasi tugas dan lain sebagainya. Setiap siswa juga mampu menyetorkan tugas dimanapun mereka berada.
Umar sekarang juga lebih mudah dalam mengidentifikasi setiap pekerjaan yang telah dikerjakan siswa-siswinya.
Orang tua pun bisa memantau kehadiran anak mereka maupun bapak ibu gurunya. Serta dapat memantau hasil pembelajaran dari manapun berada.
#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
By: R.Puji Astuti
Larangan membawa gawai di SMP Budi Utomo sangat ketat walau masih banyak siswanya yang melanggar. Siang itu saat guru muda itu lagi mengajar tiba-tiba lirikan matanya tepat pada dua orang siswanya yang asyik memperhatikan bawah meja. Guru itu pun mulai menerangkan tapi tetap fokus ke dua siswa tadi, setelah dia mengamati dia tahu siswa tersebut lagi melihat video di bawah mejanya.
Tanpa menunggu lama Umar, guru muda itu mendekati dua siswa tersebut. Siswa itupun kaget langsung memasukkan gawai ke lacinya, Umar menggeledah laci siswa itu lalu menemukan sebuah Gawai yang masih mempertontonkan video memainkan Mobil Legend.
Umar menyita gawai tersebut, tapi menurut laporan guru dan siswa masih banyak siswa lain yang membawa gawai ke kelas. Umar guru muda itu pun miris membayangkan nasib siswa-siswi nya yang sudah kecanduan gadget.
Ia kemudian menghubungi temannya di Malaysia, curhat tentang kondisi sekolahnya. Temannya itu mengajar sebagai guru untuk WNI di Malaysia. Amir yang pernah studi banding ke sebuah sekolah di Malaysia, Ia memaparkan sebuah konsep sekolah yang menggunakan gawai dan alat elektronik untuk pembelajaran, absensi dan penyusunan laporan absensi dan masih banyak lagi.
Amir memberi kontak seorang dosen Unnes yang ternyata berasal dari desanya Umar. Dosen itu bernama Bryan, ternyata pihak kampus ingin sekali mengembangkan Smart School di SMP Budi Utomo.
***
"Konsep yang saya usung adalah mengubah sistem pendidikan yang monoton menjadi bermakna dengan gawai" kata Bryan memulai penjelasannya.
Bryan pun menjelaskan panjang lebar tentang Smart School, perlahan-lahan Umar dan teman-teman gurunya mengajar menggunakan fasilitas gawai. Fungsi gawai yang biasa digunakan siswa-siswinya untuk melihat hal-hal yang tidak berguna kini berganti ke hal yang berguna.
Gawai bisa untuk presentasi tugas dan lain sebagainya. Setiap siswa juga mampu menyetorkan tugas dimanapun mereka berada.
Umar sekarang juga lebih mudah dalam mengidentifikasi setiap pekerjaan yang telah dikerjakan siswa-siswinya.
Orang tua pun bisa memantau kehadiran anak mereka maupun bapak ibu gurunya. Serta dapat memantau hasil pembelajaran dari manapun berada.
#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#SelasaFiksi
Saat Keraguan Terjawab
By : R. Puji Astuti
Kekuatan cinta membuat Krisna limbung siang itu melihat pujaan hatinya bergandengan dan bercengkrama dengan orang lain. Sementara ia dengan segala kekecewaanya hanya bisa memandang pilu.
"Apa kelebihan lelaki itu ... tampang? kata teman-temanku, akulah yang paling tampan di sekolah ini. Tapi kenapa Si dia lebih memilih Anggada," gumanku dalam hati.
Namun dasar Krisna tidak pernah lama untuk membuang segala angan tentang gadis yang juga dibilang tercantik di sekolah SMA bumi putra itu. Kegiatan yang padat sepertinya ia tidak pernah lelah aktif dalam organisasi.di sekolah maupun di kampungnya. Hal itu juga yang membuatku mudah melupakan gadisnya.
Malam bagitu meriah di gedung kesenian termegah di kota sejuk dan nyaman ini , saat Krisna sedang asik menyelaraskan nada-nada yang dipersiapkan jauh-jauh hari, khusus untuk mengikuti ajang kontes anak band di seantero kota Malang. Ajang ini diikuti grup-grup sekolah maupun grup.di luar sekolah yang menjadikan ajang paling bergengsi saat itu.
Ada mata yang selalu mengamati gerak geriknya, gadis manis itu tersipu malu ketika sesekali matanya beradu dengan Krisna.
"Ehem ...," celetuk Tomy sang vokalis band sambil mengeryitkan dahi ke arah gadis itu.
"Apa sih, mas Tom?" tanya Tara, gadis manis itu.
"Enggak ... cuma keselek dikit," jawab Tomy menggoda.
Ada perasaan aneh dalam hati Krisna, tatkala mengamati gadis itu. Matanya indah dan sedikit sayu, bibirnya merekah indah ketika ujungnya tergigit gigi putihnya. Rambutnya ikal terurai sampai ke pinggang siapa gadis ini? belum pernah melihat.
"Apa pacar mas Tom?" guman Krisna dalam hati.
Malampun telah berlalu dengan hingar bingarnya, musik berbagai aliran telah tersaji dengan segala keindahan dan kekompakan. Meskipun hanya mengantongi urutan ketiga dalam penilaian juri, tapi kami sudah senang bisa tampil maksimal dan disambut dengan gegap gempitanya penonton. Sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami insan seni.
Sekembalinya kami dari gedung itu ada yang membuat aku bingung, kenapa Mas Tom minta Krisna mengantar Tara pulang bukan dia sendiri.
Dengan mengendarai mobil pinjaman dari paman Krisna mengantar Tara pulang. "Em ... tadi namanya Rara ya?" guman Krisna ragu diiringi jantungnya yang terus bergetar.
"Iya mas ... sebenarnya bukan Rara tapi Tara," jawab Tara lembut, selembut senyumnya yang manis.
"Sudah lama kenal mas Tom?" tanya Krisna penuh selidik.
"Satu tahun Mas, semenjak mas Tom pacaran sama mbak Praba." Jawab Tara.
"Terus kemana mbak Praba kok nggak nemenin mas Tom, kok malah kamu?" tanya Krisna lagi.
"Maaf Mas, mbak Praba kan dah ninggal tiga bulan yang lalu karena sakit. Semanjak itu kalau mas Tom ada acara, ya aku yang nemenin." Jawabnya.
Mendangar jawaban Tara Krisna jadi tambah bingung. "Duh kenapa aku ini, apa akan kecewa lagi?" guman Krisna.
"Stoooop ...!" serunya membuyarkan anganku.
"Sudah kelewat ya?" sahut Krisna.
"Iya ... habis Mas, ngelamun terus sih!" jawabnya ketus.
Lalu Tara pun turun dari mobil, Krisna pun menyusulnya.
"Mas Kris, sebetulnya ngelamunin siapa sih?" tanya Tara.
"Kamu," tanpa sadar Krisna keceplosan.
Tara melihat Krisna dengan senyumnya "Apa iya, yang jelek tapi?" sergahnya lagi.
"Tara, mana nak Tom?" seru perempuan paruh baya.
"Nggak tau Ma, Tara cuma dititipkan sama cowok ganteng ini." Jawabnya sambil tertawa.A Krisna pun hanya cengar cengir sambil salah tingkah.
***
Selapas kejadian itu hari-hariku tak pernah luput dari bayang-bayang wajah Tara.
Mas tom juga menghilang entah kemana hanya kebimbangan dan kebimgungan yang ada. Bimbang atas keinginan dan ketakutku sama mas Tom, karena ingin mengambil gadisnya.
Pagi itu Krisna pergi ke sebuah mall ternama di Malang ini, tiba-tiba ada suara memanggil namanya. "Kris!" suara itu tak asing di telinga Krisna.
"Mas Tom, kok ketemu di sini. kemana aja Mas?" Tanya Krisna.
"Mmm ada dech ... kan Tara dah ada yang nemenin, jadi aku bebas kan? aku nyelesain skripsi Kris, bahannya ya dari sini ini namanya juga managemen bisnis." Jawab mas Tom.
"Kris, Tara itu anak baik,rajin, dan berbakti sama orang tua." Kata mas Tom begitu menggebu-gebu.
"Jadi jangan kau main-main ya sama dia, sepertinya dia juga suka sama kamu." Nasehat mas Tom pada Krisna yang hanya terdiam.
"Dia sering wapri aku intinya memujimu. Kris kalau boleh saya tau, sebenarnya kamu suka nggak si sama Tara?" tanya mas Tom dan Krisna pun masih terdiam.
"Kalau nggak suka ya bilang terus terang, jangan bikin anak orang penasaran, Kris!" lanjutnya yang membuat Krisna terkejut.
"Jadi apa hubungan Mas Tom sama Tara, pertanyaan itu yang mengganggu saya," kata Krisna yang di balas senyuman oleh mas Tom.
"Kris, temui Tara sekarang! dia ada di meja belakang itu, jangan sampai dia menangis karena kelamaan menunggumu!" pinta masTom sambil menepuk pundaknya.
Krisna pun tanpa pamit pada mas Tom langsung berhamburan menghampiri Tara.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day22
#KarnaSuSayang
By : R. Puji Astuti
Kekuatan cinta membuat Krisna limbung siang itu melihat pujaan hatinya bergandengan dan bercengkrama dengan orang lain. Sementara ia dengan segala kekecewaanya hanya bisa memandang pilu.
"Apa kelebihan lelaki itu ... tampang? kata teman-temanku, akulah yang paling tampan di sekolah ini. Tapi kenapa Si dia lebih memilih Anggada," gumanku dalam hati.
Namun dasar Krisna tidak pernah lama untuk membuang segala angan tentang gadis yang juga dibilang tercantik di sekolah SMA bumi putra itu. Kegiatan yang padat sepertinya ia tidak pernah lelah aktif dalam organisasi.di sekolah maupun di kampungnya. Hal itu juga yang membuatku mudah melupakan gadisnya.
Malam bagitu meriah di gedung kesenian termegah di kota sejuk dan nyaman ini , saat Krisna sedang asik menyelaraskan nada-nada yang dipersiapkan jauh-jauh hari, khusus untuk mengikuti ajang kontes anak band di seantero kota Malang. Ajang ini diikuti grup-grup sekolah maupun grup.di luar sekolah yang menjadikan ajang paling bergengsi saat itu.
Ada mata yang selalu mengamati gerak geriknya, gadis manis itu tersipu malu ketika sesekali matanya beradu dengan Krisna.
"Ehem ...," celetuk Tomy sang vokalis band sambil mengeryitkan dahi ke arah gadis itu.
"Apa sih, mas Tom?" tanya Tara, gadis manis itu.
"Enggak ... cuma keselek dikit," jawab Tomy menggoda.
Ada perasaan aneh dalam hati Krisna, tatkala mengamati gadis itu. Matanya indah dan sedikit sayu, bibirnya merekah indah ketika ujungnya tergigit gigi putihnya. Rambutnya ikal terurai sampai ke pinggang siapa gadis ini? belum pernah melihat.
"Apa pacar mas Tom?" guman Krisna dalam hati.
Malampun telah berlalu dengan hingar bingarnya, musik berbagai aliran telah tersaji dengan segala keindahan dan kekompakan. Meskipun hanya mengantongi urutan ketiga dalam penilaian juri, tapi kami sudah senang bisa tampil maksimal dan disambut dengan gegap gempitanya penonton. Sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami insan seni.
Sekembalinya kami dari gedung itu ada yang membuat aku bingung, kenapa Mas Tom minta Krisna mengantar Tara pulang bukan dia sendiri.
Dengan mengendarai mobil pinjaman dari paman Krisna mengantar Tara pulang. "Em ... tadi namanya Rara ya?" guman Krisna ragu diiringi jantungnya yang terus bergetar.
"Iya mas ... sebenarnya bukan Rara tapi Tara," jawab Tara lembut, selembut senyumnya yang manis.
"Sudah lama kenal mas Tom?" tanya Krisna penuh selidik.
"Satu tahun Mas, semenjak mas Tom pacaran sama mbak Praba." Jawab Tara.
"Terus kemana mbak Praba kok nggak nemenin mas Tom, kok malah kamu?" tanya Krisna lagi.
"Maaf Mas, mbak Praba kan dah ninggal tiga bulan yang lalu karena sakit. Semanjak itu kalau mas Tom ada acara, ya aku yang nemenin." Jawabnya.
Mendangar jawaban Tara Krisna jadi tambah bingung. "Duh kenapa aku ini, apa akan kecewa lagi?" guman Krisna.
"Stoooop ...!" serunya membuyarkan anganku.
"Sudah kelewat ya?" sahut Krisna.
"Iya ... habis Mas, ngelamun terus sih!" jawabnya ketus.
Lalu Tara pun turun dari mobil, Krisna pun menyusulnya.
"Mas Kris, sebetulnya ngelamunin siapa sih?" tanya Tara.
"Kamu," tanpa sadar Krisna keceplosan.
Tara melihat Krisna dengan senyumnya "Apa iya, yang jelek tapi?" sergahnya lagi.
"Tara, mana nak Tom?" seru perempuan paruh baya.
"Nggak tau Ma, Tara cuma dititipkan sama cowok ganteng ini." Jawabnya sambil tertawa.A Krisna pun hanya cengar cengir sambil salah tingkah.
***
Selapas kejadian itu hari-hariku tak pernah luput dari bayang-bayang wajah Tara.
Mas tom juga menghilang entah kemana hanya kebimbangan dan kebimgungan yang ada. Bimbang atas keinginan dan ketakutku sama mas Tom, karena ingin mengambil gadisnya.
Pagi itu Krisna pergi ke sebuah mall ternama di Malang ini, tiba-tiba ada suara memanggil namanya. "Kris!" suara itu tak asing di telinga Krisna.
"Mas Tom, kok ketemu di sini. kemana aja Mas?" Tanya Krisna.
"Mmm ada dech ... kan Tara dah ada yang nemenin, jadi aku bebas kan? aku nyelesain skripsi Kris, bahannya ya dari sini ini namanya juga managemen bisnis." Jawab mas Tom.
"Kris, Tara itu anak baik,rajin, dan berbakti sama orang tua." Kata mas Tom begitu menggebu-gebu.
"Jadi jangan kau main-main ya sama dia, sepertinya dia juga suka sama kamu." Nasehat mas Tom pada Krisna yang hanya terdiam.
"Dia sering wapri aku intinya memujimu. Kris kalau boleh saya tau, sebenarnya kamu suka nggak si sama Tara?" tanya mas Tom dan Krisna pun masih terdiam.
"Kalau nggak suka ya bilang terus terang, jangan bikin anak orang penasaran, Kris!" lanjutnya yang membuat Krisna terkejut.
"Jadi apa hubungan Mas Tom sama Tara, pertanyaan itu yang mengganggu saya," kata Krisna yang di balas senyuman oleh mas Tom.
"Kris, temui Tara sekarang! dia ada di meja belakang itu, jangan sampai dia menangis karena kelamaan menunggumu!" pinta masTom sambil menepuk pundaknya.
Krisna pun tanpa pamit pada mas Tom langsung berhamburan menghampiri Tara.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day22
#KarnaSuSayang
Rabu, 24 Oktober 2018
MENDUNG KELABU
By: R.Puji Astuti
Wanita itu berangkat kerja menggunakan angkutan umum, wajah sayunya nampak pucat. Riuh pagi mengiringi langkahnya, namun hatinya nampak sunyi. Sesampai di pabrik Golden Flower tempatnya bekerja, ia nampak berbaur dengan teman-temannya. Namun wajahnya memancarkan kabut hitam pekat yang siap untuk tumpah.
Wanita yang ku kenal bernama Larasati itu biasanya nampak ceria menyapa semua rekan kerja satu divisi maupun dari divisi lain. Kaki yang biasanya gesit berjalan itu kini seakan berat bergerak, sebagai supervisor dia biasanya akan banyak berbicara dengan anak buah di timnya. Namun kini diam seribu bahasa dan lebih banyak berkhayal. Aku melihatnya sangat terpukul dengan sesuatu, tapi apakah itu? ku pandangi matanya saat ia menatap wajahku sepertinya ingin berbagi.
Saat ia meneliti barang sebelum pengemasan, tiba-tiba perutnya dilanda nyeri hebat. Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun tubuhnya limbung. Ia tersungkur dan terhuyung ke lantai teman-temannya bersamaku menolongnya di larikan ke klinik perusahaan tersebut. Seorang Dokter Klinik mendeteksi tekanan darahnya sangat rendah.
“Kamu sakit apa?” tanyaku sesaat setelah ia siuman.
“saya tidak apa-apa, cuma kecapekan.” Jawab Larasati sambil tersenyum.
“Kalau kamu butuh istirahat, kamu ambil cuti saja!” perintahku sambil menatapnya iba. Ku tahu ia belum menggunakan jatah cutinya sama sekali, sehingga aku sering menawarkan padanya.
“Terima kasih pak Abimanyu, Laras butuh lemburan-lemburan itu untuk biaya sekolah anak bungsu saya.” Jelasnya sambil memandang keluar ruangan.
Hari pun berlalu kondisi Larasati semakin layu, wajahnya makin tirus dan tubuhnya makin kurus seperti tidak pernah makan. Siang itu aku makan di kantin perusahaan sambil mendengarkan sang biang gosip sedang mengobral omongannya yang bagai belati siap merajam siapapun.
“Kamu tahu nggak, Si Laras itu dengan suaminya sering di aniaya. Suaminya kan nggak kerja tapi suka main judi dan mabuk.” Kata Ratih sang biang gosip.
“Makanya ya dia dekat sama pak Abimanyu, mungkin dia selingkuh sama beliau.” Kata Bella temannya.
“Iya bisa jadi ya, ih lihat tuh orang yang kita bicarakan nonggol.” Kata Ratih sambil memandang ke arah Larasati yang berjalan mendekat ke arah mereka.
Namun sebelum Larasati sampai ke meja itu, mereka sudah kabur duluan. Kesedihan nampak di wajah Larasati. Melihat itu ku hampiri dia dan ku pesan dua buah mangkok bakso, lalu ku tarik tangannya untuk duduk di salah satu kursi. Kutatap lekat wajahnya, ku cari jawaban atas seribu tanya yang terpendam.
“Sebenarnya kamu sakit apa, Ras?” tanyaku sambil terus memandangi wajahnya.
“Saya terkena penyakit rahim Pak, anjuran dokter saya harus kemoterapi ...,” tiba-tiba buliran air mata jatuh membasahi pipinya.
“Saya tidak bisa membayangkan saya kuat menjalani itu,” lanjutnya sambil ter isak, kini air mata itu sudah tak mampu terbendung. Aku hanya terdiam menyimak setiap kata-katanya.
“Bapak lihat sendiri kan, teman-teman sudah menjauhi saya. Apalagi jika saya harus kemoterapi lalu rambut saya rontok dan botak mereka pasti lebih jijik memandang saya.” Ia masih terus berbicara diantara tangisannya. Sedih hatiku saat anak buahku menderita tapi belum bisa membantu.
Pembicaraan itu membuat pikiranku selalu tertuju pada Larasati, namun sudah dua hari ia tidak masuk kerja. Aku pun mencoba menghubunginya, dan ia menerima panggilanku.
Walau ia tidak memberitahu ku di mana ia sering berharga.
“Iya pak, maaf saya tidak kuat bertahan.” Jawabnya saat aku menanyakan kabarnya.
Sementara Larasati tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit, dan tangannya terikat selang infus. Ia hanya sendirian tak ada sanak saudara yang menemani, karena suaminya semenjak semalam tidak hadir di tempat itu. Menatap pasien lain yang di tungui saudara-saudaranya, batinnya merintih kesakitan.
Kehadiranku bersama istriku seperti membuatnya sedikit bahagia. Istriku menggengam tangannya menasehatinya agar mau melakukan kemoterapi, karena itu jalan satu-satunya untuk mencegah penyakitnya makin ganas.
“Ras, jangan kau pikirkan soal biaya, dan soal pekerjaan, kamu harus yakin kuat menghadapinya.” Kataku sambil merengkuh tangannya mentransfer aliran semangat kepadanya.
Nampak wajahnya mulai berseri diatara keraguan mengharap. Sesaat kami bertiga saling berpegangan tangan. Aku pun melihatnya mulai tersenyum, dan kami berjanji untuk saling menjaga. Terlihat pula wajah nya mulai bersemangat untuk menghadapi penyakitnya.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day18
#UsahKauLaraSendiri
Langganan:
Komentar (Atom)
Anakku Sayang Anakku Malang
Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...
-
KEBANGGAAN BY : R.Puji Astuti Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Nam...
-
Nasehat Mama By : R.Puji Astuti Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adi...




