DIAM BUKAN BERARTI KALAH
By: ResnA
Di dalam
sebuah instansi pendidikan misalnya sekolahan kita sering berhadapan dengan
masalah pergaulan dengan dewan guru dan karyawan. Masalah di dalam suatu
instansi sangatlah Komplek. Tetapi kalau kita menyelesaikannya dengan kemarahan
dan keegoisan tidak akan selesai masalah tersebut tapi malah membuat masalah
baru. Diam mungkin dapat mengatasi masalah dalam suatu instansi.
Kenapa harus
diam untuk menyelesaikan masalah, karena setiap manusia di ciptakan dengan
segala sifat baik dan buruknya. Salah satunya adalah sifat egois. Setiap orang
mempunyai keegoisan yang amat kuat, dimana-mana mereka akan merasa benar,
merasa menang dan merasa tak terkalahkan. Jika seorang guru menuruti keegoisannya
maka kehidupannya dalam pergaulan di sekolah akan mati seketika.
Bukankah guru
itu suri tauladan bagi muridnya? Seorang guru sebisa mungkin dapat memberikan
contoh pada muridnya dalam menghadapi masalah dengan diam. Diam di sini adalah
menjaga amarah dengan mendengarkan pendapat orang lain. Ada saat nya kita
mendengarkan dan menuruti kata hati orang lain walaupun belum tentu benar.
Kita hidup di
lingkungan sekolah tidak bisa tanpa guru lain. Untuk itu sebisa mungkin kita
saling menghargai apapun yang guru lain katakan atau yang guru lain lakukan.
Sebisa mungkin kita meredam keegoisan dengan diam untuk mengalah. Seperti
halnya kalimat “Diam bukan berarti kalah dan mengalah belum tentu kalah. Diam
untuk menyesuaikan diri dan untuk melatih kita selalu bersabar.
Dengan diam
dan mendengarkan setidaknya kita sudah merasa menang. Menang disini adalah
mampu mengalahkan ego kita. Berusaha instrospeksi diri belajar untuk menjadi
pribadi yang baik itu memang tidak mudah. Tapi apa salahnya kita diam? jika
diam itu membuat kita tenang.
“Jika
seseorang diam bukan berarti dia lemah, dia hanya cukup dewasa untuk mengetahui
amarah tidak akan pernah menyelesaikan masalah.” Quote tersebut mengajarkan
kepada kita untuk diam dalam menghadapi masalah. Diam disini bukan diam
berpangku tangan tapi menjaga amarah dalam menyelesaikan masalah.
Menjaga amarah
dalam diam, kemudian guru mengambil tindakan tanpa harus memamerkan gagasannya
di hadapan guru lain. Karya yang dilakukan guru dalam diam ibarat kepompong
yang bertahan dalam kesempitan tetapi bila tiba waktunya akan menjadi
kupu-kupu. Kupu-kupu akan menebar keindahan.
Berkaryalah
dalam diam karena sebuah karya yang dihasilkan dalam diam akan mempunyai
kebanggaan sendiri. Sebuah karya tidak hanya untuk popularitas, bukan hanya
untuk terkenal. Tapi sebuah karya yang dilakukan dalam diam pasti akan
mendapatkan karya yang berkualitas tinggi. Jadi diam bukan berarti kalah, tapi
diam untuk menjaga keegoisan diri dan menghasilkan karya yang indah.
Setuju dan suka sama ulasanya mak
BalasHapus