Cari Blog Ini

Senin, 14 Mei 2018

DIAM BUKAN BERARTI KALAH


DIAM BUKAN BERARTI KALAH

By: ResnA

Di dalam sebuah instansi pendidikan misalnya sekolahan kita sering berhadapan dengan masalah pergaulan dengan dewan guru dan karyawan. Masalah di dalam suatu instansi sangatlah Komplek. Tetapi kalau kita menyelesaikannya dengan kemarahan dan keegoisan tidak akan selesai masalah tersebut tapi malah membuat masalah baru. Diam mungkin dapat mengatasi masalah dalam suatu instansi.

Kenapa harus diam untuk menyelesaikan masalah, karena setiap manusia di ciptakan dengan segala sifat baik dan buruknya. Salah satunya adalah sifat egois. Setiap orang mempunyai keegoisan yang amat kuat, dimana-mana mereka akan merasa benar, merasa menang dan merasa tak terkalahkan. Jika seorang guru menuruti keegoisannya maka kehidupannya dalam pergaulan di sekolah akan mati seketika.

Bukankah guru itu suri tauladan bagi muridnya? Seorang guru sebisa mungkin dapat memberikan contoh pada muridnya dalam menghadapi masalah dengan diam. Diam di sini adalah menjaga amarah dengan mendengarkan pendapat orang lain. Ada saat nya kita mendengarkan dan menuruti kata hati orang lain walaupun belum tentu benar.

Kita hidup di lingkungan sekolah tidak bisa tanpa guru lain. Untuk itu sebisa mungkin kita saling menghargai apapun yang guru lain katakan atau yang guru lain lakukan. Sebisa mungkin kita meredam keegoisan dengan diam untuk mengalah. Seperti halnya kalimat “Diam bukan berarti kalah dan mengalah belum tentu kalah. Diam untuk menyesuaikan diri dan untuk melatih kita selalu bersabar.

Dengan diam dan mendengarkan setidaknya kita sudah merasa menang. Menang disini adalah mampu mengalahkan ego kita. Berusaha instrospeksi diri belajar untuk menjadi pribadi yang baik itu memang tidak mudah. Tapi apa salahnya kita diam? jika diam itu membuat kita tenang.

“Jika seseorang diam bukan berarti dia lemah, dia hanya cukup dewasa untuk mengetahui amarah tidak akan pernah menyelesaikan masalah.” Quote tersebut mengajarkan kepada kita untuk diam dalam menghadapi masalah. Diam disini bukan diam berpangku tangan tapi menjaga amarah dalam menyelesaikan masalah.

Menjaga amarah dalam diam, kemudian guru mengambil tindakan tanpa harus memamerkan gagasannya di hadapan guru lain. Karya yang dilakukan guru dalam diam ibarat kepompong yang bertahan dalam kesempitan tetapi bila tiba waktunya akan menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu akan menebar keindahan.

Berkaryalah dalam diam karena sebuah karya yang dihasilkan dalam diam akan mempunyai kebanggaan sendiri. Sebuah karya tidak hanya untuk popularitas, bukan hanya untuk terkenal. Tapi sebuah karya yang dilakukan dalam diam pasti akan mendapatkan karya yang berkualitas tinggi. Jadi diam bukan berarti kalah, tapi diam untuk menjaga keegoisan diri dan menghasilkan karya yang indah.

1 komentar:

Anakku Sayang Anakku Malang

Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...