Revisi
TeguranMu Jalan Taubatku
By: ResnA
PART 1
Pagi yang cerah, lalu lalang siswa keluar masuk SMK Karya Media. Bel tanda masuk dibunyikan, segerombolan siswa berlari dari kantin di luar sekolah menuju gerbang. Tanpa sengaja kaki David terinjak Seno adik kelasnya.
Memerahlah muka David semerah matanya, tanpa sepatah kata ia melayangkan tinjunya berkali-kali menghantam wajah Seno. Tak kalah pelik Seno pun menangkis dan perkelahian terjadi. Kekuatan tangan David yang berbadan kekar mampu mengoyakkan muka Seno, darah mengucur dari hidung dan bibir Seno.
Tak ada satu pun siswa yang berani melerai, mereka hanya berlari melaporkan hal tersebut pada Pak Sigit, Guru BK di SMK Karya Media. Pak Sigit langsung berlari melerai pertikaian tersebut.
“David, minta maaflah sama Seno!” suara Pak Sigit mengema dengan memasang muka sangarnya,
“Dia duluan pak yang salah,” kata David acuh.
“Maaf pak, kak, saya nggak sengaja,” kata Seno sambil meringis menahan sakit.
“Sudah-sudah kalian saling bermaafan, dan kamu David ayo ke ruangan saya!” ujar Pak Sigit dengan pandangan nanar,
“Dan kamu Seno, basuh lukamu dan obati di UKS sana,” lanjut Pak Sigit.
David hanya diam dan mengikuti langkah Pak Sigit ke ruang BK. Sampai di ruang BK Pak Sigit mengamati muka David lalu berkata, “Kamu habis mabuk ya!” suara Pak Sigit mengema lagi,
David hanya memainkan jari-jarinya, membisu sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba muncullah dua orang guru yaitu Pak Purnomo kepala sekolah SMK Karya medika dan Bu Reka wali kelas David.
“Kalau menurut saya, sebaiknya dia kita kembalikan saja ke orang tuanya, Pak!” kata Pak Sigit pada Pak Purnomo,
“Jangan Pak!” sergah Bu Reka keras,
“Tapi Bu, Dia sudah berulangkali buat keributan dengan berkelahi di Sekolah,” kilah Pak Sigit.
“David siswa yang pandai Pak. Dia berhak pula menyelesaikan pendidikannya yang tinggal beberapa minggu lagi. Selain itu banyak juga piala yang pernah dia sumbangkan untuk sekolah kita. Kita beri dia kesempatan satu kali lagi, saya yang bertangung jawab memantau dia sampai UN,” jelas Bu Reka tegas dalam pembelaannya.
“Apa Jaminan Anda Bu?” tantang Pak Sigit,
“Sudahlah pak Sigit, saya rasa benar kata Bu Reka,” sahut Pak Purnomo.
“Tapi Bu Reka Anda harus buktikan kata-kata Anda tersebut benar adanya. Kalau sampai dia mengulangi lagi sebelum UN maka kita keluarkan saja dia,” lanjut Pak Purnomo.
“Siap pak!” jawab Bu Reka,
“Pak Sigit tolong buat surat panggilan ke orang tua David. Kita jelaskan tentang kesepakatan ini,” perintah Pak Purnomo.
“Tapi setiap kita panggil orang tua David tidak pernah hadir Pak!” kilah Pak Sigit,
“Biar nanti saya saja yang melakukan pendekatan dengan orang tua David Pak!” sahut Bu Reka,
“Baik Bu Reka, saya serahkan semua pada anda,” kata Pak Purnomo.
Kemudian Pak Sigit dan Pak Purnomo pun kembali ke aktivitas masing-masing. Sedangkan Bu Reka masih bicara pada David
“David, saya tahu kamu anak baik maka saya berani membelamu. Tapi kamu harus berjanji pada saya akan patuh dengan kata-kata saya mulai dari sekarang,” kata Bu Reka tegas dijawab dengan anggukan David.
“Nanti siang kamu datang ke rumah saya, saya akan bicara empat mata denganmu,” kata Bu Reka sambil berjalan di samping David.
“Iya bu, terima kasih Ibu baik sekali,” jawab David sambil mencium tangan Bu Reka dan berlalu ke kelasnya. Bu Reka hanya mengamati dari depan kantor guru, sambil geleng-geleng kepala.
***
Sore harinya cuaca sangat panas saat terdengar deru motor Vixion memasuki halaman rumah orang tua bu Reka.
“Hai David!” sapa gadis di rumah sebelah rumah bu Reka,
“Eh Vania, rumah kamu di sini ya?” tanya David terkejut dan sedikit grogi, karena Vania gadis pujaannya semasa SMP dulu.
“Iya David, kamu mau mencari siapa?” tanya Vania,
“Benarkah ini rumahnya Bu Reka?” tanya David,
“Oh kak Reka Guru kamu ya. Dia ada kok di dalam ketuk aja pintunya!” jawab Vania,
David mengetuk pintu dan muncullah Bu Reka.
“Eh David, mari masuk!” sapa Bu Reka ramah,
“Eh ada Vania juga, mari gabung sini yuk!” ajak Bu Reka,
“Ah enggak kak, aku mau nyuci piring dulu Kak!” kata Vania sambil berlalu,
“Mari David duduk dulu sini! saya ambil minum dulu,” kata Bu Reka sambil meninggalkan David di ruang tamu.
“Makasih Bu! merepotkan saja,” sahut David sambil duduk di sofa ruang tamu.
Mata David memandang ke bagian atas rumah Bu Reka sampai memutar, seluruh foto dia amati.
Timbul decak kekaguman dalam diri David akan sosok wali kelasnya yang tidak hanya ramah, lembut tapi ternyata banyak prestasi yang pernah diraih Bu Reka. Tumbuh keinginan David untuk bisa melanjutkan pendidikannya di jenjang kuliah.
“Kok melamun?” tanya Bu Reka yang membuyarkan lamunan David,
Bu Reka lalu meletakkan minuman ke meja di depan David.
“Silahkan di minum, ngak usah grogi anggap aja kita kakak adik bukan guru dan murid di sini!” jelas Bu Reka,
David hanya menganguk kemudian meminum sedikit air teh yang di sajikan Bu Reka.
“David, saya undang kamu kesini karena saya ingin tahu alasanmu setiap hari berantem?” tanya Bu Reka panjang lebar,
“Bu, maafkan saya selalu merepotkan ibu! Sebenarnya saya juga ngak ingin berkelahi, tapi saya sering banget ngak bisa jaga emosi saya Bu!” jelas David sambil matanya berkaca-kaca,
“Jadi intinya berarti kamu harus bisa jaga emosi,” simpul Bu Reka.
“Tapi itu yang sulit Bu,” sergah David.
“ Kenapa sulit?” tanya Bu Reka penuh selidik,
“Bu, saya sering memendam kemarahan sama Bapak Ibu di rumah. Mereka seakan tidak pernah ada untuk kami anak-anaknya. Mereka pulang saat kami sudah tidur dan pergi saat kami masih tertidur. Ibu tak pernah masak, kami hanya diberi uang untuk beli makan. Saat akan berangkat sekolah yang kami temui hanya pembantu. Sore saat kita pulang yang ada hanya Bodyguard Bapak,” cerita David menggebu gebu.
“Saya capek Bu. Saya ingin melihat mereka, bersama mereka,” mata David basah.
“Kadang kalau tidak bisa tidur malam dan mereka tidak pulang, pikiran saya bingung dan hanya minum bir yang buat saya tenang. Tapi saya tidak pernah meminumnya di sekolah Bu!”
David bercerita panjang lebar tentang kebiasaannya. Bu Reka mendengarkan dengan seksama, dan menghayati cerita David.
“Oke, Ibu hanya bisa kasih satu solusi. Kamu anggap saja aku kakak kamu, kalau kamu kesepian bisa main kemari sekaligus bisa main atau belajar denganku atau Vania!” jelas Bu Reka memberi solusi.
Hari sudah senja saat David berpamitan pada Bu Reka, tampak sedikit senyum di sudut bibir David.
Bersambung
#InfinityLoving
#TheFighter
#CerbungReligi
#CerbungRamadhan
#KisahInspiratif
#CeritaFiksi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar