Cari Blog Ini

Selasa, 30 Oktober 2018



Smart School
By: R.Puji Astuti

Larangan membawa gawai di SMP Budi Utomo sangat ketat walau masih banyak siswanya yang melanggar. Siang itu saat guru muda itu lagi mengajar tiba-tiba lirikan matanya tepat pada dua orang siswanya yang asyik memperhatikan bawah meja. Guru itu pun mulai menerangkan tapi tetap fokus ke dua siswa tadi, setelah dia mengamati dia tahu siswa tersebut lagi melihat video di bawah mejanya.

Tanpa menunggu lama Umar, guru muda itu mendekati dua siswa tersebut. Siswa itupun kaget langsung memasukkan gawai ke lacinya, Umar menggeledah laci siswa itu lalu menemukan sebuah Gawai yang masih mempertontonkan video memainkan Mobil Legend.

Umar menyita gawai tersebut, tapi menurut laporan guru dan siswa masih banyak siswa lain yang membawa gawai ke kelas. Umar guru muda itu pun miris membayangkan nasib siswa-siswi nya yang sudah kecanduan gadget.

Ia kemudian menghubungi temannya di Malaysia, curhat tentang kondisi sekolahnya. Temannya itu mengajar sebagai guru untuk WNI di Malaysia. Amir yang pernah studi banding ke sebuah sekolah di Malaysia, Ia memaparkan sebuah konsep sekolah yang menggunakan gawai dan alat elektronik untuk pembelajaran, absensi dan penyusunan laporan absensi dan masih banyak lagi.

Amir memberi kontak seorang dosen Unnes yang ternyata berasal dari desanya Umar. Dosen itu bernama Bryan, ternyata pihak kampus ingin sekali mengembangkan Smart School di SMP Budi Utomo.

***

"Konsep yang saya usung adalah mengubah sistem pendidikan yang monoton menjadi bermakna dengan gawai" kata Bryan memulai penjelasannya.

Bryan pun menjelaskan panjang lebar tentang Smart School, perlahan-lahan Umar dan teman-teman gurunya mengajar menggunakan fasilitas gawai. Fungsi gawai yang biasa digunakan siswa-siswinya untuk melihat hal-hal yang tidak berguna kini berganti ke hal yang berguna.

Gawai bisa untuk presentasi tugas dan lain sebagainya. Setiap siswa juga mampu menyetorkan tugas dimanapun mereka berada.

Umar sekarang juga lebih mudah dalam mengidentifikasi setiap pekerjaan yang telah dikerjakan siswa-siswinya.

Orang tua pun bisa memantau kehadiran anak mereka maupun bapak ibu gurunya. Serta dapat memantau hasil pembelajaran dari manapun berada.

#TheFighter
#InfinityLovink
#NyonyaKetjeh
#SelasaFiksi
Saat Keraguan Terjawab
By : R. Puji Astuti

Kekuatan cinta membuat Krisna limbung siang itu melihat pujaan hatinya bergandengan dan bercengkrama dengan orang lain. Sementara ia dengan segala kekecewaanya hanya bisa memandang pilu.

"Apa kelebihan lelaki itu ... tampang? kata teman-temanku, akulah yang paling tampan di sekolah ini. Tapi kenapa Si dia lebih memilih Anggada," gumanku dalam hati.

Namun dasar Krisna tidak pernah lama untuk membuang segala angan tentang gadis yang juga dibilang tercantik di sekolah SMA bumi putra itu. Kegiatan yang padat sepertinya ia tidak  pernah lelah aktif dalam organisasi.di sekolah maupun di kampungnya. Hal itu juga yang membuatku mudah melupakan gadisnya.

Malam bagitu meriah di gedung kesenian termegah di kota sejuk dan nyaman ini , saat Krisna sedang asik menyelaraskan nada-nada yang dipersiapkan jauh-jauh hari, khusus untuk mengikuti ajang kontes anak band di seantero kota Malang. Ajang ini diikuti grup-grup sekolah maupun grup.di luar sekolah yang menjadikan  ajang paling bergengsi saat itu.

Ada mata yang selalu mengamati gerak geriknya, gadis manis itu tersipu malu ketika sesekali matanya beradu dengan Krisna.

"Ehem ...," celetuk Tomy sang vokalis band sambil mengeryitkan dahi ke arah gadis itu.

"Apa sih, mas Tom?" tanya Tara, gadis manis itu.

"Enggak ... cuma keselek dikit," jawab Tomy menggoda.

Ada perasaan aneh dalam hati Krisna, tatkala mengamati gadis itu. Matanya indah dan sedikit sayu, bibirnya merekah indah ketika ujungnya tergigit gigi putihnya. Rambutnya ikal terurai sampai ke pinggang siapa gadis ini? belum pernah melihat.

"Apa pacar mas Tom?" guman Krisna dalam hati.

 Malampun telah berlalu dengan hingar bingarnya, musik berbagai aliran telah  tersaji dengan segala keindahan dan kekompakan. Meskipun hanya mengantongi urutan ketiga dalam penilaian juri, tapi kami sudah senang bisa tampil maksimal dan disambut dengan gegap gempitanya penonton. Sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami insan seni.

Sekembalinya kami dari gedung itu ada yang membuat aku bingung, kenapa Mas Tom minta Krisna mengantar Tara pulang bukan dia sendiri.

Dengan mengendarai mobil pinjaman dari paman Krisna mengantar Tara pulang. "Em ... tadi namanya Rara ya?" guman Krisna ragu diiringi jantungnya yang  terus bergetar.

 "Iya mas ... sebenarnya bukan Rara tapi Tara," jawab Tara lembut, selembut senyumnya yang manis.

"Sudah lama kenal mas Tom?" tanya Krisna penuh selidik.

"Satu tahun Mas, semenjak mas Tom pacaran sama mbak Praba." Jawab Tara.

"Terus kemana mbak Praba kok nggak nemenin mas Tom, kok malah kamu?" tanya Krisna lagi.

"Maaf Mas, mbak Praba kan dah ninggal tiga bulan yang lalu karena sakit. Semanjak itu kalau mas Tom ada acara, ya aku yang nemenin." Jawabnya.

Mendangar jawaban Tara Krisna jadi tambah bingung. "Duh kenapa aku ini, apa akan kecewa lagi?" guman Krisna.

"Stoooop ...!" serunya membuyarkan anganku.

"Sudah kelewat ya?" sahut Krisna.

"Iya ... habis Mas, ngelamun terus sih!" jawabnya ketus.

Lalu Tara pun turun dari mobil, Krisna pun menyusulnya.
"Mas Kris, sebetulnya ngelamunin siapa sih?" tanya Tara.

 "Kamu," tanpa sadar Krisna keceplosan.

Tara melihat Krisna dengan senyumnya "Apa iya, yang jelek tapi?" sergahnya lagi.

"Tara, mana nak Tom?" seru perempuan paruh baya.

"Nggak tau Ma, Tara cuma dititipkan sama cowok ganteng ini." Jawabnya sambil tertawa.A Krisna pun hanya cengar cengir sambil salah tingkah.
***

Selapas kejadian itu hari-hariku tak pernah luput dari bayang-bayang wajah Tara.

Mas tom juga menghilang entah kemana hanya kebimbangan dan kebimgungan yang ada. Bimbang atas keinginan dan ketakutku sama mas Tom, karena ingin mengambil gadisnya.

Pagi itu Krisna pergi ke sebuah mall ternama di Malang ini, tiba-tiba ada suara memanggil namanya. "Kris!" suara itu tak asing di telinga Krisna.

"Mas Tom, kok ketemu di sini. kemana aja Mas?" Tanya Krisna.

"Mmm ada dech ... kan Tara dah ada yang nemenin, jadi aku bebas kan? aku nyelesain skripsi Kris, bahannya ya dari sini ini namanya juga managemen bisnis." Jawab mas Tom.

"Kris, Tara itu anak baik,rajin, dan berbakti sama orang tua." Kata mas Tom begitu menggebu-gebu.

"Jadi jangan kau main-main ya sama dia, sepertinya dia juga suka sama kamu." Nasehat mas Tom pada Krisna yang hanya terdiam.

"Dia sering wapri aku intinya memujimu. Kris kalau boleh saya tau, sebenarnya kamu suka nggak si sama Tara?" tanya mas Tom dan Krisna pun masih terdiam.

"Kalau nggak suka ya bilang terus terang, jangan bikin anak orang penasaran, Kris!" lanjutnya yang membuat Krisna terkejut.

"Jadi apa hubungan Mas Tom sama Tara, pertanyaan itu yang mengganggu saya," kata Krisna yang di balas senyuman oleh mas Tom.

"Kris, temui Tara sekarang! dia ada di meja belakang itu, jangan sampai dia menangis karena kelamaan menunggumu!" pinta masTom sambil menepuk pundaknya.

Krisna pun tanpa pamit pada mas Tom langsung berhamburan menghampiri Tara.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day22
#KarnaSuSayang

Rabu, 24 Oktober 2018



MENDUNG KELABU
By: R.Puji Astuti

Wanita itu berangkat kerja menggunakan angkutan umum, wajah sayunya nampak pucat. Riuh pagi mengiringi langkahnya, namun hatinya nampak sunyi. Sesampai di pabrik Golden Flower tempatnya bekerja, ia nampak berbaur dengan teman-temannya. Namun wajahnya memancarkan kabut hitam pekat yang siap untuk tumpah.

Wanita yang ku kenal bernama Larasati itu biasanya nampak ceria menyapa semua rekan kerja satu divisi maupun dari divisi lain. Kaki yang biasanya gesit berjalan itu kini seakan berat bergerak, sebagai supervisor dia biasanya akan banyak berbicara dengan anak buah di timnya. Namun kini diam seribu bahasa dan lebih banyak berkhayal. Aku melihatnya sangat terpukul dengan sesuatu, tapi apakah itu? ku pandangi matanya saat ia menatap wajahku sepertinya ingin berbagi.

Saat ia meneliti barang sebelum pengemasan, tiba-tiba perutnya dilanda nyeri hebat. Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun tubuhnya limbung. Ia tersungkur dan terhuyung ke lantai teman-temannya bersamaku menolongnya di larikan ke klinik perusahaan tersebut. Seorang Dokter Klinik mendeteksi tekanan darahnya sangat rendah.

“Kamu sakit apa?” tanyaku sesaat setelah ia siuman.

“saya tidak apa-apa, cuma kecapekan.” Jawab Larasati sambil tersenyum.

“Kalau kamu butuh istirahat, kamu ambil cuti saja!” perintahku sambil menatapnya iba. Ku tahu ia belum menggunakan jatah cutinya sama sekali, sehingga aku sering menawarkan padanya.

“Terima kasih pak Abimanyu, Laras butuh lemburan-lemburan itu untuk biaya sekolah anak bungsu saya.” Jelasnya sambil memandang keluar ruangan.

Hari pun berlalu kondisi Larasati semakin layu, wajahnya makin tirus dan tubuhnya makin kurus seperti tidak pernah makan. Siang itu aku makan di kantin perusahaan sambil mendengarkan sang biang gosip sedang mengobral omongannya yang bagai belati siap merajam siapapun.

“Kamu tahu nggak, Si Laras itu dengan suaminya sering di aniaya. Suaminya kan nggak kerja tapi suka main judi dan mabuk.” Kata Ratih sang biang gosip.

“Makanya ya dia dekat sama pak Abimanyu, mungkin dia selingkuh sama beliau.” Kata Bella temannya.

“Iya bisa jadi ya, ih lihat tuh orang yang kita bicarakan nonggol.” Kata Ratih sambil memandang ke arah Larasati yang berjalan mendekat ke arah mereka.

Namun sebelum Larasati sampai ke meja itu, mereka sudah kabur duluan. Kesedihan nampak di wajah Larasati. Melihat itu ku hampiri dia dan ku pesan dua buah mangkok bakso, lalu ku tarik tangannya untuk duduk di salah satu kursi. Kutatap lekat wajahnya, ku cari jawaban atas seribu tanya yang terpendam.

“Sebenarnya kamu sakit apa, Ras?” tanyaku sambil terus memandangi wajahnya.

“Saya terkena penyakit rahim Pak, anjuran dokter saya harus kemoterapi ...,” tiba-tiba buliran air mata jatuh membasahi pipinya.

“Saya tidak bisa membayangkan saya kuat menjalani itu,” lanjutnya sambil ter isak, kini air mata itu sudah tak mampu terbendung. Aku hanya terdiam menyimak setiap kata-katanya.

“Bapak lihat sendiri kan, teman-teman sudah menjauhi saya. Apalagi jika saya harus kemoterapi lalu rambut saya rontok dan botak mereka pasti lebih jijik memandang saya.” Ia masih terus berbicara diantara tangisannya. Sedih hatiku saat anak buahku menderita tapi belum bisa membantu.

Pembicaraan itu membuat pikiranku selalu tertuju pada Larasati, namun sudah dua hari ia tidak masuk kerja. Aku pun mencoba menghubunginya, dan ia menerima panggilanku.

Walau ia tidak memberitahu ku di mana ia sering berharga.
“Iya pak, maaf saya tidak kuat bertahan.” Jawabnya saat aku menanyakan kabarnya.
Sementara Larasati tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit, dan tangannya terikat selang infus. Ia hanya sendirian tak ada sanak saudara yang menemani, karena suaminya semenjak semalam tidak hadir di tempat itu. Menatap pasien lain yang di tungui saudara-saudaranya, batinnya merintih kesakitan.

Kehadiranku bersama istriku seperti membuatnya sedikit bahagia. Istriku menggengam tangannya menasehatinya agar mau melakukan kemoterapi, karena itu jalan satu-satunya untuk mencegah penyakitnya makin ganas.

“Ras, jangan kau pikirkan soal biaya, dan soal pekerjaan, kamu harus yakin kuat menghadapinya.” Kataku sambil merengkuh tangannya mentransfer aliran semangat kepadanya.

Nampak wajahnya mulai berseri diatara keraguan mengharap. Sesaat kami bertiga saling berpegangan tangan.  Aku pun melihatnya mulai tersenyum, dan kami berjanji untuk saling menjaga. Terlihat pula wajah nya mulai bersemangat untuk menghadapi penyakitnya.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day18
#UsahKauLaraSendiri

Selasa, 23 Oktober 2018

KEBANGGAAN

BY : R.Puji Astuti

Malam itu begitu riuh setelah semua keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun ibunda dari Melani. Namun si cantik Melani nampak murung ketika kedua kakaknya datang bersamaan.

“Bunda, kak Intan kan artis keroncong yang sudah konser kesana kemari.” Kata Melani sambil memeluk ibundanya. Nampak wajahnya meredup menyadari kenyataan dirinya tidak beken seperti kakak sulungnya.

“Kak Candra apalagi, Bun! artis campursari idola seluruh negeri, kalau sepi ngerjain album masih ada tanggapan di hajatan orang.” Kata Melani lagi sambil terus merenung.

“Sudah tidak usah dipikir, kamu juga pandai, cantik dan segalanya buat bunda!” kata ibundanya sambil memeluk Melani dan mengelus rambutnya.

“Makasih Bunda, maaf belum bisa jadi kebanggaan!” kata Melani sambil mengambil nampan berisi tumpeng ulang tahun untuk ibundanya dan menyiapkan hidangan acara malam ini bersama mbok Imah.

Ibunda pun menghampiri Candra yang datang bersama suami dan putrinya, sementara Intandatang bersama kedua putranya. Mereka melepas kerinduan bersama bunda Fitria, berbincang dan bersenda gurau sebelum acara di mulai.

Melihat keceriaan di mata Ibundanya, Melani berusaha menjauh dari mereka. Ia lbih memilih membantu mbok Inah di ruang makan. “Mbok, kenapa aku berbeda dengan kakak-kakakku?” tanya Melani sambil tangannya terampil menyiapkan makan malam nanti.

Mbok Inah sontak tertenggun kaget, ia kemudian ingat Melani bukan saudara kandung Intan dan Candra. Mungkin itu alasan kenapa Melani tidak bisa bernyanyi, namun mbok Inah tidak berani mengatakan hal tersebut. “Saya tidak tahu, Non!” kata mbok Inah langsung meninggalkan Melani ke dapur.

Sementara Intan sempat melihat adik bungsunya sedih, ia pun akhirnya menghampiri Melani. “Mel, kenapa sedih? Ayo kita mulai acara ini, supaya tidak kemalaman nanti usainya.” Kata Intan dengan lembut sambil memapah adik bungsunya bergabung dengan keluarga lain di ruang tamu.

Acara pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun bunda Fitria di lakukan dengan meriah walau hanya bersama anak cucunya. Seusai acara mereka saling berbincang-bincang.

“Mel, kenapa sedih?” tanya Candra sambil mendekati Melani dan duduk sambil mengelus rambut adiknya itu.

“Aku tidak bisa jadi penyanyi beken seperti kalian, aku nggak bisa bahagiakan Bunda.” Kata Melani lirih sambil meneteskan air matanya. Suasana yang mulanya hinggar binggar berubah jadi sendu.

“Mel, bukannya kamu tidak bisa beken. Mungkin belum aja!” jelas Intan secara bijaksana.

“Kenapa suaraku fals sementara kalian suaranya merdu sekali?” tanya Melani sambil terus menanggis.

“Dalam sebuah keluarga itukan kadang memang tidak sama bakat dan sifatnya.” Candra mencoba lagi menghibur adiknya.

“Maafkan Bunda, Mel! harusnya bunda kasih tahu kamu sejak kecil,” Kata Bunda terputus dan menerawang ke langit-langit rumah.

“Kamu adalah saudara tiri mereka, ayah kamu berbeda dengan mereka.” Kata bunda sambil air matanya bercucuran.

“Tidak usah bersedih lagi, bunda juga sangat bangga dengan kecantikan, kepandaian dan talenta menulismu Mel.” Nasehat bunda yang terus menatapnya penuh harap, agar Melani menyadari untuk tidak sedih lagi.

“Mel, bukankah kita membanggakan orang tua tidak hanya dengan menjadi artis beken tapi juga dari juara lomba-lomba di sekolah dan itu sudah sering dulu kamu lakukan buat bunda” Nasehat Candra sambil memeluk Melani.

“Lihat ini Mel, sebuah surat kabar pagi ini menampilkan artikel yang kamu buat.” Kata Intan sambil berkemas untuk pulang dengan terlebih dulu juga memeluk Melani. Dan berpamitan juga pada bunda Fitria.

“Iya Kak, Mel akan berusaha untuk terus berkarya jadi wartawan agar bunda bangga sama aku.” kata Melani sambil melepas kakak-kakaknya pulang.

“Mel, Bunda tetap bangga apapun profesimu kamu, Nak!” Nasehat bunda Fitria sesaat setelah kepergian kakak-kakaknya dan mereka memasuki ruang tamu. Pelukan penuh haru pun terjadi malam itu.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day17
#PengenBeken_ProjectPop

Senin, 22 Oktober 2018


Nasehat Mama
By : R.Puji Astuti

Malam gelap menyelimuti bumi, Arzetha sedang belajar bersama Mamanya di ruang tengah. Sementara sang adik Anindita sedang belajar mewarnai buku bekas dari kakaknya yang sudah tidak terpakai. Tiba-tiba saat Mama sedang mengajari menelaah soal cerita tentang FPB dan KPK, Anindita merengek minta digambarkan ayam. Kakaknya pun kesal lalu menulis dengan di tekan-tekan.

Belum selesai Arzetha mengerjakan soalnya pensilnya patah. "Ma, pensilku patah ...," kata Arzetha diikuti tangisan olehnya.

"Kenapa harus nangis Kak, harusnya kan diraut pakai rautan atau pisau cutter dong Kak!" Nasehat mama sambil mengelus  rambut kakak yang panjang.

"Ma, pisau cutternya tadi aku pakai mainan. Sekarang masih di luar sana, Ma!" kata Arzetha sambil menunduk takut dimarahi mamanya.

"Kak, kenapa menunduk tunggu apalagi ya segera diambil dong pisaunya." Kata Mama sambil menggambarkan adiknya.

Namun Arzetha malah mainan buku sambil bernyanyi, "Mah, aku takut ngambil sendirian. Entar kalau ada setan gimana, Mah?" katanya begitu memandang mata mamanya menatapnya tajam.

Dengan geram akhirnya mamanya mengantarkan ke halaman samping rumah. Di ikuti Anindita yang menangis karena tidak mau ditinggal sendirian.

Diantara pisau cutternya Arzetha terdapat potongan roti kecil-kecil yang dibawa beberapa semut kecil-kecil. Sementara ada semut yang lain masuk lubang yang kecil di dalam tanah.

"Tuh Kak, lihat semut aja masuk lubang tidak takut gelap." Kaya mama dengan lembut.

"Apa nggak ada setannya ya Mah di tanah?" tanya Anindita dengan polosnya sambil berekspresi ngeri.

"Semut nggak kenapa-kenapa kan keluar masuk tanah? Jadi di dalam tanah nggak ada setan Dik," kata Mamanya menjelaskan dengan cermat.

"Cacing tanah hidupnya di tanah, tapi mereka nggak jahat, tidak makan sesama makhluk hidup." Kata Mamanya.

"Mah, semut punya mama papa seperti Anindita ndak ya?" tanya Anindita dengan  polosnya Mama tidak menjawab hanya tersenyum sambil mengacak rambutnya.

Mereka masih mengamati semut yang berjalan beriringan sambil membawa makanan.

"Lihat Nak, semut bergotong royong membawa roti mereka nggak rebutan, kalau bertemu teman mereka salaman. Mereka akur banget ya, Nak!" kata Mama sambil menggandeng anak-anak ke rumah.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Puisi Akrostik


He is my hero that perfect

aku temukan kau dalam keterpurukanku,
dalam keputus asaanku.
kau bagai pelita dalam hidupku.
kau mengajariku banyak hal.
tidak pernah memaki kekuranganku.
kau mengajariku dari nol semua hal.
kaupun melengkapi setiap kekuranganku.
begitu sempurnanya dirimu bagi diriku.
takkan sanggup bila ku kehilangan dirimu.
begitu bahagia seharusnya aku mendapatkanmu.
tak perlu menoleh ke belakang aku harus bahagia bersamamu.
dan kini ku sadari betapa besar artimu bagi hidupku.
senyumku mengembang tiap senyummu menyemangati nadiku.
kau yang terbaik untukku. kau pelita hatiku.
terimakasih ALLAH kau memberi dia.

Komentar

Kamis, 18 Oktober 2018

Damar Namaku
By: R.Puji Astuti

Damar hanya anak seorang tukang kayu, tidak tampan tubuhku kurus tinggi. Maka di julukilah aku tiyang listrik berjalan.Aku selalu menyendiri se usai sekolah, bermain di belakang rumah ayahku. Lumayan luas tanah bapakku, peninggalan kakekku. Hanya sebuah bola basket, kumainkan sesuka hatiku. Hingga suatu saat ada temanku yang hobi basket melihatku memainkan benda bundar itu.

"Tiang, ternyata kamu jago basket juga?" seru Rico.

"Cuma main aja kok, Ric!" jawabku begitulah teman-teman memanggilku.

"Kenapa nggak ikut tim basket sekolah aja?" tanya Riko sambil duduk di bangku besar yang ada di teras belakang.

Aku pun duduk di sudut sebelah bangku itu, "Siapa yang mau pilih aku, Ric?" tanyaku.

"Lho kan nggak ada pilih memilih di bidang olah raga, asal mampu ya dapat masuk." sergah Rico.
"Oke lusa kan ada penjaringan bakat untuk bola basket, kamu ikut saja ... oke!" lanjut Rico.

" Semua yang ikut kan anak-anak gedongan, Ric. Keren-keren, sementara aku ini apa? Cuma cecunguk, kata Hery tempo hari." Jawabku penuh kepesimisan.

"Gini dech, pokoknya kamu lusa harus ikut! aku yang jadi pendukungmu," kata Rico memaksa sambil menepuk bahuku.

"Wah hari sudah petang nih pamit dulu ya, Yang! Pokoknya kamu harus ikut." pinta Rico lagi. Aku hanya terdiam yang ada dalam hatiku bayangan si Hery remaja tampan tinggi tegap, si Juna bintang lapangan SMA Merah Putih itu. Si Robi yang tajir dan playboy, duh pasti aku jadi bulan-bulanan di kelompok yang katanya borju itu.
Pagi itu SMA Merah Putih begitu riuh, sebuah sekolah favorit di kota Metropolitan ini. Mobil mewah berjajar di pelataran sekolah. Seakan ajang show room dadakan, maklum yang sekolah di situ banyak anak pengusaha sukses dan pejabat teras.

Teriakan gadis-gadis molek dan manja bergelora di suatu gedung besar dan megah itulah lambang kegengsian sekolah itu. Terlihat pemuda-pemuda tampan dan gagah, di balut dengan pakaian yang serba mewah dan sesekali teriakan histeris gadis-gadis belia.

Membuat hatiku semakin ciut, aku hanya duduk di sudut lapangan yang megah itu sambil menunggu giliran di uji oleh team guru. “Perhatian ...!” Suara keras dari sound sistem membuat riuhnya suasana menjadi hening seketika.

"Anak-anaku hari ini kalian akan di uji dalam hal permainan bola basket. Mengingat tahun ini kita kekurangan personil dalam team bola basket, " suara bapak Kepala Sekolah yang terdengar dari pengeras suara itu.

 "Dan hari ini kita kedatangan tim penguji dari pelatih team nasional kita, yaitu bapak Saragih." lanjut bapak Kepala,yang di sambut gemuruh semua yang hadir.

Satu demi satu siswa SMA Merah Putih yang telah mendaftar, telah di uji oleh tim penilai. Tak luput akupun telah memamerkan kebolehanku memainkan si benda bundar itu. Meskipun ejekan dan celaan dari teman-teman. Namun itu semua sudah aku anti sipasi, toh yang mereka unggulkan hanya materi.

Tiba saatnya untuk pengumuman dari 18 orang yang dipilih hanya aku yang disambut dengan celaan," Huuuu ...,"terikan mereka.

Yang membuat aku sedikit sakit hati yaitu celetukan seorang gadis, Soraya namanya katanya sih primadona di sekolah ini dan juga anak pejabat tinggi.

Hari pertama latihan aku sedikit nerves bukan dari permainan tapi dari penampilan teman-teman yang selalu pamer materi dan seperti terkotak-kotak. Ada golongan atas dan menengah bahkan ada celetukan yang keras dari mulut Roby."hay...! sekarang kita dah komplit nih,"

"Apa sih?" sahut Juna.
 "Ada kelas bawah," ejek Hery dan itu dah biasa di sekolah itu.

Aku disekolah itu bukan karena kebetulan tapi karna prestasi. Aku bisa menenangkan Olimpiade Sains Tingkat Profinsi kala itu dan di angkat anak oleh salah satu guru di situ, tanpa itu tak mungkin aku ada di sekolah itu.

Hari berganti dengan berat dan penuh penistaan akan status kemelaratanku, tapi aku semakin kuat di dorong dan di suport oleh temanku Rico yang anak konglomrat nomer satu di kota itu. Meskipun ayahnya super tajir tapi kehidupan sehari-harinya sederhana tidak foya-foya, bahkan dia ke sekolah hanya naik motor. Tidak seperti anak gedongan lainya, wajahnya tampan kulitnya putih bersih. Meskipun sederhana dia terlihat sangat berwibawa, mungkin itu alasan tidak ada anak yang berani mengejek dia.

Untuk kesekian kalinya aku ikut bergabung dalam tim inti basket sekolah ini, dan tak pernah sekalipun tim ini kalah selalu dan selalu jadi juara. Hari senin begitu panas upacara di halaman sekolah begitu lama bapak Kepala Sekolah dalam sambutanya. tapi ada yang membuat kami terhenyak, ketika akan di umumkanya. Bahwa salah satu pemain basket sekolah ini akan di rekrut ke tim nasional, seketika anak anak bersorak gemuruh di lapangan sekolah itu.

Dan teriakan gadis gadis cilliders berteriak meneriakkan nama pujaanya. Bahkan Soraya gadis super cantik itu meneriakkan," Hidup Robi  ...!"

 "Tenang tenang .. !" seru bapak Kepala Sekolah, kemudian di hening suasana yang menunggu siapa anak istimewa tersebut.

"la adalah Damar Jati ...!" anak-anak pun bersorak, beberapa anak langsung mengucapkan selamat kepadaku tak ketinggalan Riko dengan riang memelukku.

"Selamat Tiang, kamu adalah tiang bendera penyangga panji-panji bendera kebanggaan kita." Ucap Rico.

Dan yang membuat aku meneteskan air mata, ibu angkatku sekaligus guru kebanggaanku lbu Hardaning puji Gumaya memelukku sambil meneteskan air mata keharuan. "Selamat Nak, kau kebanggaan ibu!”

Setahun kemudian aku mampu menjadi atlet ASEAN Games dan reguku mampu membawa medali emas untuk negeri ini. Saat Sang saka Merah Putih dikibarkan pada urutan teratas dan lagu Indonesia Raya di kumandangkan aku merinding dan menanggis haru.



LARA(s)
By: R PujiAstuti

Malam yang gelap Fatah menatap ombak di lautan, Ia merenungkan apa yang ia lihat sore tadi. Saat dirinya menjemput Laras kekasihnya ternyata Laras tengah berduaan dengan Malva teman kuliahnya dulu.

Fatah pergi meninggalkan mereka berdua dengan mobilnya, menuju pantai ini. Ia sebenarnya sudah curiga akan hubungan mereka, karena setiap kali ia mendapati mereka berdua. Pernah suatu ketika ia mendapati Laras sedang berbincang dengan Malva di telpon.

"Maafkan aku Laras, aku belum mampu membahagiakan dirimu." Kata itu terucap saat untuk kesekian kalinya Laras menghubungi dirinya.

"Kamu dimana Fat?" tanya Laras penuh selidik.

"Untuk apa kau peduli lagi, aku tahu kamu dengan Malva ada hubungan ya?" Fatah balik bertanya, namun semua itu membuat Laras marah.

Setelah peristiwa itu Fatah pergi merantau meninggalkan Bandung untuk pergi ke Singapura. Ia mencoba bekerja di sana, keinginannya Ia ingin menunjukkan bahwa Ia juga mampu bekerja tanpa kekuasaan orang tuanya. Ia ingin suatu saat nanti Laras bangga akan dirinya.
***

Kesuksesan Fatah yang berawal dari karyawan, kini telah mampu menjadi manager cabang perusahaan tersebut yang ada di Indonesia. Niat hati Fatah ingin memberi kejutan kepada Larasati atas kepulangannya, namun sore itu ia melihat Laras berboncengan dengan Malva dan tangan gadis itu erat mengapit pinggang Malva. Ia benar-benar kecewa, Fatah bertanya pada karyawan di perusahaan Laras.

"Malva dan Laras akhirnya pacaran ya?" tanya Fatah pada Andika karyawan bidang marketing di perusahaan tersebut.

"Tidak hanya pacaran, tapi mereka sudah menikah," hati Fatah seperti tengah disambar petir. Ia merasa semuanya hitam, namun semua temannya membuatnya bangkit.


Hari itu acara pengukuhan Fatah yang menjadi direktur dan menjadi seorang pemilik perusahaan di Indonesia. Acara tersebut banyak di tayangkan di sejumlah televisi, Laras pun melihat berita itu sedikit terharu.

Dulu ia sering bertengkar karena kemalasan Fatah, namun kini ia telah berhasil walau tidak mampu mendapatkan hati Laras.
#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day9





Rabu, 17 Oktober 2018

5000 GTT PTT Kabupaten Wonogiri Sarasehan dengan Dirjen GTK
By : R.Puji Astuti


Pada hari Rabu tanggal 17 Oktober 2018 pukul 12.45 sampai dengan 14.30 Wib bertempat di Pendopo Kabupaten Wonogiri, telah dilaksanakan Sarasehan Bidang Pendidikan Kabupaten Wonogiri tahun 2018. Sarasehan ini adalah antara  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan  GTT dan PTT di Sekolah Negeri yang tergabung dalam  Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI)  Kabupaten Wonogiri.

Acara sarasehan ini dihadiri oleh bebarapa pihak antara lain:
1. Dirjen GTK ( Guru dan Tenaga Kependidikan) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Supriano, M.Ed.
2. Deputi IV Kementrian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Budaya Prof. Dr. Agus Sartono.
3. Asisten Deputi Pendidikan Menengah dan Keterampilan Bekerja Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI  Wijaya Kusuma Wardana.
4. Asisten Deputi Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI  Eka Kartika.
5. Bupati Wonogiri Joko Sutopo.
6. Ketua DPRD Kab. Wonogiri Setyo Sukarno. S.sos.
7. ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Wonogiri Sriyono. S.Pd.
8. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Wonogiri Drs. Siswanto, M.Pd.
9. Kabid Kurikulum TK, SD dan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Wonogiri Drs. Suwanto, M.Pd.
10. Ketua Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) Kabupaten Wonogiri Sunthi Sari A.Ma.Pd.
11. GTT ( Guru Tidak Tetap ), PTT ( Pekerja Tidak Tetap ) di Sekolah Negeri yang tergabung dalam  Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI)  Kabupaten Wonogiri lk. 5150 orang.

Susunan acara adalah sebai berikut:
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya.
2. Doa oleh Roni Kustanto, SH.
3. Penyampaian Ketua Komisi IV DPRD Kab. Wonogiri Sriyono, S.Pd :
a. Yang saya hormati para anggota GTT dan PTT wonogiri pada pagi hari ini sangat bahagia sekali bisa berkumpul pada siang hari ini.
b. Saya menyampaikan kepada anggota DPRRI pak Bambang wuryanto tentang keinginan ya menjadi PNS karena adanya lowongan pendaftaran PNS dan kendalanya ada yang membentur.
c. Maka pak Bambang menyampaikan keluhan GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri kepada pak dirjen pendidikan di jakarta maka pada siang hari ini beliau hadir untuk membantu menyelesaikan masalah GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri.
d. Kita bersyukur karena Bapak Dirjen berkenan hadir di Kabupaten Wonogiri kita sudah menyampaikan banyak keluhan kepada bapak Dirjen tentang kesejahteraan guru GTT dan PTT Wonogiri.
e. Pak Bambang Wuryanto menyampaikan akan siap mengawal hasil keputusan GTT dan PTT wonogiri pada siang hari ini tentunya kita sangat apresiasi terhadap kepedulian beliau walaupun ngak hadir pada pertemuan kali ini.

4. Tanya jawab yang dipandu oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Raykat Kab. Wonogiri Drs. Edi Sutopo, M.Si.
a. Penyampaian Ketua Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) Kabupaten Wonogiri Sunthi Sari A.Ma.Pd :
1) Saya ucapakan terimakasih kepada bapak ibu pemerintah daerah kabupaten.
2) Kami sebagai insan pendidik Sebenar nya tidak tega untuk berhenti mendidik anak2 karena harapan kami sudah pupus dengan adanya pembukaan lowongan cpns wonogiri.
3) Saya minta dengan hormat bapak dapat memberikan solusi kepada guru GTT dan PTT yang hadir pada hari ini.
4) Usia kami sudah tua dan tidak mungkin dapat menjadi ataupun mendaftar PNS lagi harapan kami kesejahteraan kami dipikirkan.
5) Dengan separuh jiwa kami berikan jasa pendidikan kami berikan seutuhnya namun jasa kami tidak dihargai kami menunggu keputusan bapak ibu.

b. Penyampaian Sekretaris Front Pembela Honorer Indonesia (FPHI) Kabupaten Wonogiri Sdr. Dakun :
1) Pengabdian saya sebagai guru GTT sudah 15 tahun dan mengajar di SD kenteng 2 Purwantoro dan mengajar full 1 minggu
2) Kami menyampaikan perwakilan GTT dan PTT wonogiri memohon penghapusan peraturan pembatasan usia pendaftaran PNS
3) Menetapkan guru GTT dan PTT agar diangkat menjadi PNS di sesuaikan dengan pengabdian dan di sesuaikan kebutuhan.
4) Kami memohon maaf beberapa hari lalu meninggalkan anak didik untuk termenung karena keputusan pemerintah usia 35 tidak dapat mendaftar sebagai pns dan sangat mengapresiasi bapak bupati yang memberikan sedikit kesejahteraan kepada guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri.
5) Kami hanya memohon kepada pemerintah pusat agar tolong hargai pengorbanan guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri.

c. Penyampaian Heri Bastoni (GTT SMP 1 Slogohimo):
1)Kami memohon untuk pencabutan larangan pengangkatan guru honorer
2) Bagaimana nasib guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri.
3) Kami mohon gaji sesuai dengan honorer.

d. Penyampaian Handoyo Saputro (GTT SD Bulukerto):
1) Ijinkan kami memeberikan saran dan mewakili para GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri yang terdiri dari guru TK SD SMP penjaga sekolah dan TU kesemuanya honorer.
2) Kami mohon dihargai masa kerja kami dan umjrkami bertambah dan kamo memiliki tenaga didik yang saya pikir tidak kalah dengan tenaga didik lainya.
3) Kami berharap bapak ibu dapat memikirkan kesejahteraan kami karena 50 persen tenaga didik di kabupaten Wonogiri diisi oleh tenaga didik honorer.

5. Penyampaian Dirjen GTK ( Guru dan Tenaga Kependidikan) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Supriano, M.Ed :
a. Dari empat penanya ini luar biasa dan intinya semua berharap diterima sebagai PNS maupun calon PNS.
b. Apa yang bapak ibu rasakan 30 tahun saya rasakan saya masuk ke Dirjen pendidikan saya sebagai honorer. Tapi dengan usaha dan kegigihan dapat terwujud semua yang bapak ibu cita-cita kan kita 2 tahun yang lalu di kagetan satu satu nya Bupati  yang berani memberikan SK kepada guru GTT dan PTT hanya di Kabupaten Wonogiri dan berani menganggarkan dana Rp. 21 milyar untuk guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri.
b. Saya mohon ijin kepada bapak Menteri untuk bertemu kepada guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri dan pak Menteri menitip salam kepada bapak ibu guru yang hadir pada siang hari ini.
c. Hari ini saya bahagia bisa ketemu bapak ibu dan menerima keluhan bapak ibu biasanya saya menerima keluhan sebatas 10 orang dan pertanyaan sama kesejahteraan
d. Otonomi daerah sudah berjalan tanggung jawab guru SD dan SMP tanggung jawab daerah.
Sekarang terdapat guru GTT dan PTT 7355 ribu lebih yang mengajar di SD, SMP Negri angka itu sudah di ketahui Presiden dan Menteri Keuangan.
e. Kekuran guru 707 ribu guru di Indonesia maka Pemerintah mengadakan rekrutmen PNS guru sekarang tidak ada sistem pengangkatan guru.
f. Kami sebagai pelaksana dan harus mengikuti aturan yang ada, Undang-Undang Administrasi menyatakan guru yang ber umur 18 sampai 35 dapat di terima sebagai PNS, UU guru dan dosen menyatakan bahwa guru harus berpendidikan SI dan D4.
g. Maka jika di Kabupaten ada 1000 yang mendaftar PNS di Kabupaten Wonogiri jika yang lulus cuma 500 yang lulus maka pemerintah memberikan kebijakan untuk yang tidak lulus dapat mengikuti tes susulan ke dua  dan sisanya yang tidak lulus kami meminta pemerintah daerah untuk membayar sesuai UMR.
h. Jika kami tidak boleh menabrak undang-udang aspirasi ini akan kami sampaikan kepada bapak menteri dan para pembuatan keputusan karena semua di perlukan perundingan panjang.

5. Tanggapan dari Deputi IV Kementrian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Budaya Profil. Dr. Agus Sartono.
a.Tunjangan insentif bapak ibu guru saya yakin tidak sesuai yang di harapkan.
b. Lalu kami meminta untuk tetapkan bersama bapak Dirjen untuk meningkatkan kesejahteraan guru GTT dan PTT  saat ini.
c. Memang kita kekurangan guru karena kekurangan anggaran keuangan untuk membayar ASN maka kami hanya bisa menerima ASN secara bertahap.
d. Ini yang harus kita pahami bersama  terkait dengan keinginan bapak ibu mohon untuk memahami karena prioritas kami untuk peningkatan mutu pendidikan.
e. Saya mengapresiasi benar kapada bapak Bupati yang telah memperhatikan kesejahteraan guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri.
f. Saya masih berfikir lebih baik nasib guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri yang telah memiliki SK dari bapak Bupati di banding dengan guru GTT dan PTT di kabupaten lain.
g. Sebenarnya kami sudah dapat membaca apa inspirasi bapak ibu sekalian sebelum datang ke kabupaten Wonogiri ini supaya masalah tidak berlarut kita harus sering mengadakan kegiatan semacam ini.
h. Ini sebagai tantangan kami dalam meningkatkan kesejahteraan  bapak ibu sekalian dan tentunya kami sangat mengapresiasi  karena Bapak ibu masih mengajar dengan status sebagai guru GTT dan PTT.
i. Harapan kami bapak ibu dapat mengajar dan kami sangat mengapresiasi  usulan bapak ibu kedepan semoga harapannya dapat tercapai.

6. Penyampaian Indra Wisnu Wardana (GTT SD Purwosari) :
a. Intinya bahwa undang undang tersebut membuat keberadaan kita guru honorer tidak dapat menjadi guru honorer.
b. Kami beranggapan masih ada jalan dengan perpu maupun kepres kami mohon dapat di dampingi dalam  memperjuangkan hak kami.
c. Kita melihat dilapangan karena adanya honorer karena ketidak kesediannya PNS karena tuntutan pemerintah pendidikan harus mutu.
d. Tujuan kita tanpa pamrih karena kita terbentur sistim dan keadaan geografis di kabupaten Wonogiri sangat jauh maka kami memohon untuk bantuan bapak dari dirjen.
e. Kami sangat bersyukur kepada bapak bupati yang telah memberikan insentif kepada kami akan tetapi yang kami inginkan keberanian yang dilakukan oleh pemimpin kami menjadi contoh bagi pemimpin-pemimpin lainya.

7. Penyampaian Bupati Wonogiri Joko Sutopo:
a. Saya bisa membaca kebatinan rekan2 karena belum puas mendapat jawaban dari bapak dirjen.

Kami mohon kepada bapak ibu karena keterbatasan kami dalam melaksanakan keinginan para guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri .
b. Saya pun tidak puas dengan jawaban bapak dirjen akan tetapi kita harus menyadari semua terbentur oleh undang2 dan aturan maka mari kita diskusi tentang unek unek kita.
c. Kabupaten Wonogiri hanya mendapatkan kuota cpns kurang lebih 200 calon pns maka namun pemerintah kabupaten.
d. Hari ini kabupaten Wonogiri mendapat kehormatan kehadiran bapak dirjen untuk menyampaikan inspirasi para guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri ke tingkat pusat.
e. Maka kami pemerintah kabupaten Wonogiri akan selalu mendukung mari kita berjuang karena perjuangan ini sangat panjang.
f. Maka saya menyampaikan kebijakan kabupaten Wonogiri kedepan maka kami akan memperjuangkan keinginan bapak ibu sekalian agar terwujud.
g.Karena kebijakan dan otoritas kami sebagai Bupati ada keterbatasan dalam memperjuangkan kesejahteraan bapak ibu dan saya yakin UU dapat di amandemen maka undang2 lain dapat dirubah.
h. Maka menuju tahun 2019 kebijakan kabupaten Wonogiri.
i. Saya melakukan reformasi penataan keuangan di kabupaten Wonogiri untuk kesejahteraan guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri.
j. Jangan pernah meragukan kewenangan daerah kami pasti akan memperjuangakan kesejahteraan  guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri.
k.Pesan saya satu kalau kita indonesia maka kita sengkuyung sesarengan bangun wonogiri dalam berbagai bidang.
l. Maka regulasi kita mari kita berjuang dan bersinergi dengan pemerintah kabupaten Wonogiri dalam mewujudkan  keinginan bapak ibu guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri.
m. Saya pastikan menuju tahun 2019 kami akan memberikan kebijakan kepada guru GTT dan PTT di kabupaten Wonogiri dalam peningkatan kesejahteraan dan kami mohon maaf karena kami belum dapat mewujudkan keinginan bapak ibu sekalian.
8. Penutup.

Catatan:

1. Untuk proses mengajar para guru GTT dan PTT di Kabupaten Wonogiri belum ada kepastian apakah besok pada tanggal 18 oktober akan dilaksanakan menunggu proses musyawarah dengan guru GTT dan PTT yang lain.
2. Selama acara berjalan dengan aman, tertib dan terkendali

Selasa, 16 Oktober 2018

CEMORO SEWU
By : R.Puji Astuti

Hari itu Arya melakukan pendakian bersama rekan-rekan MAPALA Garba Wira Buana. Perjalanan di mulai pagi hari setelah sarapan di Basecamp Cemoro Sewu sambil menikmati pemandangan Gunung Lawu yang memukau. Kabut putih menyelimuti udara, dingin menyusup sampai tulang-tulang.

Sementara rekan-rekannya mengisi perlengkapan logistik, Arya sedang menulis pesan kepada gadisnya Larasati. “Ras, maafkan aku baru kasih kabar, aku naik gunung lawu!” pesan Arya dari gawainya.

Belum sempat ia menutup layar gawainya, sebuah pesan masuk dan langsung ia baca. “Ya, kenapa kamu bohong? Katanya tidak akan mendaki lagi setelah kejadian setahun yang lalu.” Kata Larasati.

“Ras, aku tidak bisa menahan diri. Jiwaku ingin terus mendaki, doakan aku selamat!” balas  Arya  dalam pesannya.

“Aamiin, ku tunggu hadirmu senin pagi!” jawab Larasati.

“Oke, akanku bawakan edelwis untukmu. Maaf ini teman-teman dah menungguku, I Love You forever!” janji Arya sembari menutup layar gawai dan memasukkan ke dalam tas gunungnya.

Perjalanan dari Cemoro Sewu menuju pos pertama masih landai, Arya menapaki jalan bebatuan yang tertata rapi. Teman satu timnya terdiri dari Arya, Bima, Fajar, Baskara, Mila dan Kirana. Sementara yang lain bercanda dalam perjalanan, Kirana sibuk merayu Arya bahkan bersandar di bahu Arya sambil berjalan.

Pemandangan ladang warga, kebun teh dan hutan pinus mampu di lalui mereka. Keelokan alam diiringi nyanyian burung menambah sejuk alam yang mereka pijak. Pos pertama hampir tiba, saat mata Arya memandang sebuah sendang yang bernama Sendang Panguripan. Mereka berenam mengisi kembali botol-botol yang sudah kosong.

Pos pertama mampu terlewati, derap langkah menyusuri hutan pinus disertai bau belerang dari bebatuan yang terinjak menemani mereka hingga pos kedua. Rombongan Arya beristirahat dan mengisi perut saat sampai di pos kedua. Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan ke pos ketiga.

“Kak Arya, aku takut jangan cepat-cepat jalannya!” kata Kirana sambil memeluk Arya, tatapan mata tajam  melepas pelukan itu.

“Kak, bau apa ini?” renggek Kirana lagi setelah sampai di pos ketiga. Bau dupa menusuk hidung membuat Kirana muntah-muntah. Tapi  ia tetap bersikeras melanjutkan ke pos berikutnya.

Perjalanan yang miring dan licin membuat Kirana meraih tangan Arya untuk menopang keseimbangan namun tanpa disadari ia tergelincir. Karena ia memegang tangan Arya, akhirnya Arya pun ikut tergelincir. Luka robek di kaki Arya yang terpental ke bebatuan menyisakan darah segar yang terus menetes. Sementara Kirana pingsan, rombongan itu berusaha mengobati luka Arya dan menyadarkan Kirana.

Mereka terpaksa menunda perjalanan, padahal udara dingin semakin membasahi pakaian mereka. Mila tidak tahan dengan kedinginan itu bergetar hebat. Sementara kabut pekat menutupi sekeliling mereka. Setelah beberapa saat semuanya siap melanjutkan pendakian lagi. Walau senja mulai beranjak dan kabut pekat menutupi pandangan mereka.

Mereka berjalan dan terus berjalan  tapi ternyata mereka hanya memutar tidak mampu menemukan jalur mereka kembali. Karena lelah mereka kembali istirahat lagi. Tapi tekad mereka untuk segera mencapai puncak lawu begitu kuat.

“Ayo kawan kita cari lagi jalur kita ke puncak!” Seru Arya menyemangati teman-temannya.

“Tapi hari sudah senja, apa kita mampu memandang saat malam gelap nanti?” tanya Mila yang sebenarnya takut kegelapan.

“Benar kata Arya, mari kita bangkit dan kembali fokus ke puncak.” Sahut Baskara.

Setelah mereka berkeyakinan akan sampai di pos kelima, mereka pun sampai. “Ayo istirahat makan sebentar disini.” Kata Baskara.

“Jangan kita istirahat di Sendang Derajat saja!” kata Arya yang diiyakan rekan-rekannya.

Perjalanan menuju Sendang Derajat menimbulkan kekhawatiran rekan-rekannya terhadap Kirana. Tubuh Kirana nampak lemas mereka khawatir dia tidak dapat memanjat. Tapi berkat bantuan para lelaki mereka sampailah di Sendang Derajat. Lelaki mendirikan tenda untuk sekedar istirahat.

Saat malam mulai merangkak mereka melanjutkan perjalanan karena mereka ingin melihat fajar dan matahari terbit di puncak Hargo Dumilah. Menuju puncak ini sangatlah sulitkarena mereka harus merangkak terlebih dahulu sepanjang jalan. Kirana mengalami kram kaki, sementara Mila terluka kakinya. Hal tersebut mengakibatkan mereka tersendat lagi untuk menuju puncah Hargo Dumilah.

Saat semua sudah mampu merangkak kembali, tiba-tiba Arya bertumpu pada batu yang lapuk, dan tergelincir masuk ke jurang. Namun terdapat batang pohon di antara jurang terjal tersebut. Sebuah tali di lemparkan teman-temannya dan mereka berlima berusaha menarik Bima.

“Alhamdulillah, aku masih selamat.” Kata Arya sambil memeluk mereka berlima. Walau perih dirasakan di seluruh tubuhnya Arya tetap meminta segera meneruskan perjalanan.

Kabut pekat menutupi pandangan mereka namun pemandangan nan elok mulai nampak sebelum mereka benar-benar mencapai puncak Hargo Dumilah. Fajar mulai menyingsing, saat tangan dan kaki mereka mulai menapaki puncak itu. Mereka berpelukan melepas penat sambil menikmati keindahan alam sebelum pagi berlalu.
“Laras, andai kau tahu nikmatnya di puncak sini. Aku akan lebih bahagia bersamamu di sini.” Bisik Arya sambil terus menghirup udara sejuk itu.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day12
#SabdaAlam_Cryshe



CEMORO SEWU
By : R.Puji Astuti

Hari itu Arya melakukan pendakian bersama rekan-rekan MAPALA Garba Wira Buana. Perjalanan di mulai pagi hari setelah sarapan di Basecamp Cemoro Sewu sambil menikmati pemandangan Gunung Lawu yang memukau. Kabut putih menyelimuti udara, dingin menyusup sampai tulang-tulang.

Sementara rekan-rekannya mengisi perlengkapan logistik, Arya sedang menulis pesan kepada gadisnya Larasati. “Ras, maafkan aku baru kasih kabar, aku naik gunung lawu!” pesan Arya dari gawainya.

Belum sempat ia menutup layar gawainya, sebuah pesan masuk dan langsung ia baca. “Ya, kenapa kamu bohong? Katanya tidak akan mendaki lagi setelah kejadian setahun yang lalu.” Kata Larasati.

“Ras, aku tidak bisa menahan diri. Jiwaku ingin terus mendaki, doakan aku selamat!” balas  Arya  dalam pesannya.

“Aamiin, ku tunggu hadirmu senin pagi!” jawab Larasati.

“Oke, akanku bawakan edelwis untukmu. Maaf ini teman-teman dah menungguku, I Love You forever!” janji Arya sembari menutup layar gawai dan memasukkan ke dalam tas gunungnya.

Perjalanan dari Cemoro Sewu menuju pos pertama masih landai, Arya menapaki jalan bebatuan yang tertata rapi. Teman satu timnya terdiri dari Arya, Bima, Fajar, Baskara, Mila dan Kirana. Sementara yang lain bercanda dalam perjalanan, Kirana sibuk merayu Arya bahkan bersandar di bahu Arya sambil berjalan.

Pemandangan ladang warga, kebun teh dan hutan pinus mampu di lalui mereka. Keelokan alam diiringi nyanyian burung menambah sejuk alam yang mereka pijak. Pos pertama hampir tiba, saat mata Arya memandang sebuah sendang yang bernama Sendang Panguripan. Mereka berenam mengisi kembali botol-botol yang sudah kosong.

Pos pertama mampu terlewati, derap langkah menyusuri hutan pinus disertai bau belerang dari bebatuan yang terinjak menemani mereka hingga pos kedua. Rombongan Arya beristirahat dan mengisi perut saat sampai di pos kedua. Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan ke pos ketiga.

“Kak Arya, aku takut jangan cepat-cepat jalannya!” kata Kirana sambil memeluk Arya, tatapan mata tajam  melepas pelukan itu.

“Kak, bau apa ini?” renggek Kirana lagi setelah sampai di pos ketiga. Bau dupa menusuk hidung membuat Kirana muntah-muntah. Tapi  ia tetap bersikeras melanjutkan ke pos berikutnya.

Perjalanan yang miring dan licin membuat Kirana meraih tangan Arya untuk menopang keseimbangan namun tanpa disadari ia tergelincir. Karena ia memegang tangan Arya, akhirnya Arya pun ikut tergelincir. Luka robek di kaki Arya yang terpental ke bebatuan menyisakan darah segar yang terus menetes. Sementara Kirana pingsan, rombongan itu berusaha mengobati luka Arya dan menyadarkan Kirana.

Mereka terpaksa menunda perjalanan, padahal udara dingin semakin membasahi pakaian mereka. Mila tidak tahan dengan kedinginan itu bergetar hebat. Sementara kabut pekat menutupi sekeliling mereka. Setelah beberapa saat semuanya siap melanjutkan pendakian lagi. Walau senja mulai beranjak dan kabut pekat menutupi pandangan mereka.

Mereka berjalan dan terus berjalan  tapi ternyata mereka hanya memutar tidak mampu menemukan jalur mereka kembali. Karena lelah mereka kembali istirahat lagi. Tapi tekad mereka untuk segera mencapai puncak lawu begitu kuat.

“Ayo kawan kita cari lagi jalur kita ke puncak!” Seru Arya menyemangati teman-temannya.

“Tapi hari sudah senja, apa kita mampu memandang saat malam gelap nanti?” tanya Mila yang sebenarnya takut kegelapan.

“Benar kata Arya, mari kita bangkit dan kembali fokus ke puncak.” Sahut Baskara.

Setelah mereka berkeyakinan akan sampai di pos kelima, mereka pun sampai. “Ayo istirahat makan sebentar disini.” Kata Baskara.

“Jangan kita istirahat di Sendang Derajat saja!” kata Arya yang diiyakan rekan-rekannya.

Perjalanan menuju Sendang Derajat menimbulkan kekhawatiran rekan-rekannya terhadap Kirana. Tubuh Kirana nampak lemas mereka khawatir dia tidak dapat memanjat. Tapi berkat bantuan para lelaki mereka sampailah di Sendang Derajat. Lelaki mendirikan tenda untuk sekedar istirahat.

Saat malam mulai merangkak mereka melanjutkan perjalanan karena mereka ingin melihat fajar dan matahari terbit di puncak Hargo Dumilah. Menuju puncak ini sangatlah sulitkarena mereka harus merangkak terlebih dahulu sepanjang jalan. Kirana mengalami kram kaki, sementara Mila terluka kakinya. Hal tersebut mengakibatkan mereka tersendat lagi untuk menuju puncah Hargo Dumilah.

Saat semua sudah mampu merangkak kembali, tiba-tiba Arya bertumpu pada batu yang lapuk, dan tergelincir masuk ke jurang. Namun terdapat batang pohon di antara jurang terjal tersebut. Sebuah tali di lemparkan teman-temannya dan mereka berlima berusaha menarik Bima.

“Alhamdulillah, aku masih selamat.” Kata Arya sambil memeluk mereka berlima. Walau perih dirasakan di seluruh tubuhnya Arya tetap meminta segera meneruskan perjalanan.

Kabut pekat menutupi pandangan mereka namun pemandangan nan elok mulai nampak sebelum mereka benar-benar mencapai puncak Hargo Dumilah. Fajar mulai menyingsing, saat tangan dan kaki mereka mulai menapaki puncak itu. Mereka berpelukan melepas penat sambil menikmati keindahan alam sebelum pagi berlalu.
“Laras, andai kau tahu nikmatnya di puncak sini. Aku akan lebih bahagia bersamamu di sini.” Bisik Arya sambil terus menghirup udara sejuk itu.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day12
#SabdaAlam_Cryshe



Senin, 15 Oktober 2018

DANGDUT

By : R. Puji Astuti

Malam itu begitu dingin, Larasati harus menerima tawaran kekasihnya Fatah untuk pergi ke pasar malam. Tempat yang bagi Larasati hanya untuk anak-anak  bergembira. Hal tersebut yang membuat Laras tidak suka, tidak ada manfaatnya. Membuang-buang waktu saja.

"Kalau mau ketemu klien kenapa harus ke pasar malam sih?" Omelan Larasati saat membonceng Fatah.

"Dik, kliennya suka musik dangdut. Dia minta aku ketemu di sana." Kata Fatah mencoba memberi tahu Larasati.

"Apa sih enaknya dangdut! lebih keren pop apalagi slow rock," sungut Larasati.

Motor pun melaju menuju  lapangan Panglima Jenderal Sudirman Ambarawa. Suara riuhnya setiap pedagang yang menjajakan setiap dagang mereka dengan cara berlomba-lomba menarik perhatian pembeli.

Suatu ilmu yang dia dapatkan dari perjalanan malam ini, dan tibalah kami pada suatu tempat yang berbeda di sini katanya untuk yang akan menikmati musik dangdut. Ada seorang sedang menikmati setiap lantunan suara. Ia pun menggoyangkan badannya setelah menikmati lagu tersebut.

Sementara Larasati masih fokus penglihatannya pada panggung, yang ia lihat adalah merdunya suara seruling bambu yang dipadukan dengan suara gendang yang rancak bana. Sementara Fatah dengan orang yang asyik bergoyang tadi sedang terlibat pembicaraan serius. Larasati menikmati sebuah lagu dan tanpa terasa ia mulai menggerakkan pinggulnya. Ia mengikuti setiap nada dengan goyangan yang riang gembira. Fatah mengamati semuanya dengan terheran. Orang yang antipati terhadap dangdut kini bergoyang.

"Dik, kamu suka?" tanya Fatah.

"Ternyata asyik ya Kak," jawab Larasati sambil tersenyum malu.

“Musik dangdut itu identik dengan riang dik, sekalipun ada nada sendu, tetap saja kita ingin bergoyang dan berdendang,” kata Fatah.

“Musik dangdut identitas bangsa kita, nggak perlu malu justru harusnya kita bangga bisa mencintai musik khas negara kita,” terangnya lagi.

"Musik dangdut sudah go Internasional, banyak bule yang mempelajari musik dangdut di Indonesia, bahkan Raja Dangdut Rhoma Irama mendapatkan gelar Doktor Honoris dari Amerika Serikat karena keahliannya di bidang musik dangdut, Dik." Kalimat ini di lontarkan Fatah sebagai sindiran pada Larasati yang lebih gemar lagu Korea di bandingkan dangdut.

“Gimana Dik, mau pulang sekarang?" tanya Fatah mencairkan suasana, karena terlihat muka gadisnya tersipu.

"Entar dulu ya Kak, kita nikmati lagunya dulu," jawab Larasati sambil memohon dan bersandar pada bahu Fatah. Sejak saat itu Larasati selalu menyukai lagu dangdut.

#SahabatKabolMenulis
#SKM072
#Day11
#Terajana_RhomaIrama

Minggu, 14 Oktober 2018

6000 GTT PTT SD SMP di Wonogiri Kembali Ijin


6000 GTT PTT di Wonogiri Kembali Ijin

By : R. Puji Astuti


Setelah minggu lalu 6000 GTT PTT TK,SD, dan SMP Negeri di Wonogiri melakukan cuti menggajar yang sedianya akan dilaksanakan selama 3 minggu dari tanggal 8 sampai dengan 31 Oktober 2018. Aksi ini bertujuan untuk menuntut pemerintah pusat menghentikan penerimaan CPNS dari jalur umum.

Dua tuntutan lainnya adalah pemerintah pusat diminta mencabut Permen PAN-RB Nomor 36 Tahun 2018 tentang kriteria penetapan kebutuhan PNS 2018, yang membatasi usia maksimal 35 tahun. Selain itu GTT/PTT menuntut presiden menerbitkan perpu untuk menyelesaikan masalah GTT/PTT yang sudah lama mengabdi di sekolah negeri.


Namun karena pembelajaran di Wonogiri mengalami kelumpuhan, Akhirnya pihak kementrian pendidikan dan kebudayaan  langsung turun tangan mendengarkan aspirasi mereka.

Setelah adanya perhatian dari kemendikbud dan sudah menemui perwakilan Forum GTT/PTT Wonogiri. Seluruh guru honorer mulai rabu, 10 Oktober 2018 sudah masuk bekerja lagi. Menurut ketua forum GTT/PTT, kedatangan beberapa penjabat Kemendikbud ke Wonogiri berarti sudah ada indikasi bahwa anspirasi mereka sudah di dengar oleh pemerintah pusat.


Senin, 15 Oktober 2018 mereka kembali melakukan ijin tidak mengajar, hal tersebut dilakukan untuk menyikapi aksi mogok nasional dari FPHI Pusat yang akan diadakan pada tanggal 15 – 31 Oktober 2018. GTT dan PTT mempunyai agenda kegiatan mengadakan doa bersama dan bakti sosial di Kecamatan masing-masing. Agenda kegiatan ini dilakukan selama dua hari dengan pusat kegiatan Kecamatan Purwantoro.


Sementara itu pada hari Rabu, 17 Oktober 2018, semua anggota GTT dan PTT Kabupaten Wonogiri diintruksikan untuk berkumpul di lapangan Giri Krida Bakti Kabupaten Wonogiri pada pukul 08.00 WIB. Intruksi ini di tujukan sebagai sambutan akan kedatangan Dirjen GTK RI untuk beraudience dengan GTT/PTT Kabupaten Wonogiri.


Sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Wonogiri, diharapkan mempunyai solusi dalam menggelola kelas yang di tinggalkan GTT dan PTTnya. Hal ini bertujuan agar Sekolahan di Wonogiri tidak mengalami kelumpuhan lagi.

Semoga acara yang di gelar besuk Rabu, mampu menghasilkan keputusan yang berpihak pada GTT/PTT dan juga tidak terjadi keributan yang mengakibatkan korban jiwa. GTT dan PTT diharapkan mampu menjaga emosi dalam aksi tersebut.



BISUL

By : R.Puji Astuti Feat Yuni Siti Nuraeni

Mail memeluk Rima sesampainya ia dirumah. Rasa rindu itu begitu membuncah. Satu pekan ini mereka  tak berjumpa  karena Mail ditugaskan diluar kota. Dalam satu bulan Mail memang selalu keluar kota untuk sebuah tugas yang tak bisa ditinggalkan. Rima pun selalu menyambut hangat pelukan suami yang baru 1 tahun menikahinya itu.

"Aduh.. sakit tau", Rintih Rima saat Mail suaminya memeluknya erat.

Rima pun seketika menepis kedua tangan kekar yang memeluknya itu.

"Ah Neng, masa akang peluk gini aja sakit? kan biasanya juga minta dipeluk, lama lagi." Ucap Mail yang baru saja pulang dari luar kota.

"Ini lho kang, lengan eneng bisul," kata Rima sambil menggulung kaos lengan pendek yang dipakainya.

"Ya Allah Neng , itu bisul udah merah, bengkak dan bernanah begitu, sudah lama apa ya?" tanya Mail sambil mengusap si bisul.

"Iya kang sudah 4 hari ini." Jawab rima sambil menyandarkan bagian lengannya sebelah kiri kedada Mail yang bidang.

Mail pun mengusap pelan bisul dilengan kanan isterinya itu dengan tangan kirinya.

"Nah gitu Kang, enak kalo diusap-usap gini." Rayu Rima agar Mail tidak menghentikan usapan tangannya itu.
"Neng, tau gak? katanya bisul itu tumbuh karena seseorang sedang menyembunyikan perasaan bersalahnya." Ucap Mail dengan nada selidik.

"Ah masa sih Kang! ada-ada aja, apa hubungannya?" jawab Rima tak percaya, ia pun mulai gelisah.

"Akang gak tau sih apa hubungannya, tapi bisa saja itu memang benar soalnya waktu kecil dulu akan sering sekali bisulan. Saat itu akang membuang sandal aa Mulyo, karena kesal tidak dibelikan sandal baru juga. Tapi akang bilang pada aa Mulyo dan orangtua akang kalau sandalnya jatoh ke sungai."
"Satu hari kemudian bisul tumbuh di lengan akang. Saat itu nenek datang kerumah dan beliau melihat lengan akang bisulan, nenek langsung tau kalau akang sudah melakukan perbuatan yang tercela."

"Akang saat itu langsung teringat kesalahan akang. Dan langsung meminta maaf pada aa Mulyo. Selang beberapa hari bisul akang juga kempes sendiri." ucap Mail

"Pernah juga akang bisul di pantat, karena sering sekali kentut tapi menuduh orang lain yang kentut, dan bisul pun tumbuh". Tambah Mail sambil senyum dan tertawa lebar karena teringat masa kecilnya.

Entah kenapa Rima tak ikut mentertawakan cerita suaminya itu. Ia hanya  terdiam, dan seketika itu suasana menjadi hening

Rima semakin gelisah, apakah suaminya juga akan tahu bisulnya ini karena apa? Ah entahlah ia masih terbuai dengan usapan lembut tangan suaminya.

Malam harinya seusai makan malam, Rima teringat lagi akan bisul dan kata-kata suaminya. Rima berfikir haruskah ia jujur agar bisulnya segera sembuh. Namun ia takut jika ia jujur suaminya akan marah, Rima pun merasa gundah gulana, dan ia tidak bisa tertidur.

Lantunan dengkuran Mail, memperparah keadaan Rima. Ia bolak-balik berganti posisi agar matanya dapat segera terpejam, Ia pun mengambil tasbih untuk berdzikir. Namun hingga dentang jam berbunyi tiga kali mata itu tak mampu terpejam sedikit pun.

Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi, berwudhu dan mendirikan dua rakaat shalat tahajud. Ia berdoa pada Allah agar diberikan kemudahan untuk berbicara dengan suaminya dan berakhirlah semuanya.

Mail terjaga dari tidurnya, ia melihat istrinya begitu khusuk berdoa membuatnya terharu. Namun ia kemudian teringat bisul di ketiak istinya, kebohongan apa yang disembunyikan istrinya. "Sudah selesai Neng, tumben sholat tahajud?" tanya Mail pada istrinya.

"Iya Kang, eneng pengen cepet punya anak. Makanya kita harus rajin sholat malam biar segera diberi sama Allah," kilah Rima menyembunyikan kegundahan hatinya.

***
Pagi harinya seperti biasa keluarga itu makan pagi bersama, Rima adalah ibu rumah tangga yang hebat dalam hal masak dan dandan. Masakan apapun bisa ia buat, sehingga ia punya usaha catering di rumah dan membuka kios jajan pasar di dekat Cihampelas Walk. Ia memperkerjakan beberapa karyawan untuk membantunya.

Sebelum Mail pergi ke kantor, Rima melepas kepergian suaminya sampai pintu gerbang. Mail pun mengecup istrinya dengan mesra, walaupun dalam hatinya masih ada keraguan akan apa yang disembunyikan istrinya.

"Neng, nanti kalau pulang dari toko jangan malam-malam ya? Mungkin akang nggak lembur hari ini!" pinta Mail pada Rima.

"Iya Akang," jawab Rima sambil melambaikan tangan pada suaminya. Ia pun setelah itu bersiap untuk berangkat ke toko sambil membawa kue brownies dan talam pesanan orang.

Di Toko pelanggan Rima sangat banyak hari ini, Ia dan karyawan hingga membuat kue sampai dua kali. Kecapekan nampak di wajah Rima, ia pun istirahat di kursi depan meja kasir. Belum ada sepuluh menit ia istirahat, tiba-tiba gawainya berdenting.

"Gimana apakah jadi mau ketemu?" bunyi pesan WA yang bertuliskan nama Lukman.

Rima pun tersenyum dan membalas, "Jadi dong! Aku kan sudah penasaran sekali."

"Oke, aku jemput jam setengah empat ya!" balas Lukman dalam pesannya kembali.

Acara bersama Lukman sore itu ternyata tidak seperti harapan Rima, dapat berlangsung secara singkat. Rima benar-benar gelisah ketika waktu terus berlalu, Selepas Isya Rima baru dapat pulang. Ia memendam ketakutan akan kemarahan suaminya, dalam benaknya selalu mengingat janjinya pada suaminya tadi pagi.

Sesampainya di rumah Rima berharap suaminya belum datang, namun saat membuka pintu gerbang, ia sudah melihat Pajero suaminya terparkir di garasi rumahnya. Ia pun mengendap-endap berharap suaminya tidak tahu, niat hatinya ia ingin segera menyiapkan makan malam untuk suaminya.

"Neng, tadi pagi kan sudah janji pulangnya tidak malam-malam. Kenapa  jam segini baru pulang?" tanya Mail pada istrinya.

"Maaf Kang, hari ini pelanggan banyak sekali. Aku dan Santi sampai harus memasak tiga kali," jawab Rima berbohong.

"Kenapa kamu terlihat pucat, Neng! kamu sakit ya?" tanya Mail penuh perhatian. Ia ingin kejujuran Rima, namun sepertinya istrinya masih belum terbuka.

"Apa perlu aku antar ke dokter, Neng?" tanya Mail sambil mengamati Rima.

"Tidak usah Kang, paling cuma kecapekan. Aku siapkan makan malam dulu ya, Kang!" jawab Rima untuk menutupi semua yang ia rahasiakan dari suaminya.

***
Beberapa hari Rima selalu pulang malam, Kadang Mail pulang lebih awal. Kecurigaan Mail semakin menjadi, pasti Rima menyimpan kebohongan besar. Apalagi dua hari ini setiap kali jam empat sore, Mail selalu telepon ke toko untuk memastikan apa yang di kerjakan istrinya hingga selalu pulang malam.

"Neng, kenapa pulang malam lagi? tadi akang telpon ke toko, kata Santi, eneng sudah pulang duluan." Tanya Mail sambil menahan amarah di dadanya.

"Maaf Kang, eneng tidak langsung pulang. Tadi Eneng mampir dulu ke rumah Amel, kangen Kang! Oh iya Amel sudah lahiran seminggu yang lalu, Kang." Kata Rima sambil menutupi apa yang terjadi.

"Eneng bohong, Akang tidak percaya!" Mail marah tapi tidak dapat meluapkan emosinya, Ia lebih memilih pergi dan tidak kembali sampai esok hari.

Rima gelisah kemana suaminya sampai pagi kok tidak pulang. Ia bersedih harusnya ia berterus terang tentang dirinya. Ia mencoba menghubungi gawai suaminya, namun tidak aktif.

"Kang, maafkan eneng! Akang dimana, kenapa tidak pulang?" sebuah pesan ia kirim ke nomor suaminya. Sebenarnya ia ingin mencari suaminya, namun pesanan kue untuk hari ini sangat banyak sehingga ia tidak dapat meninggalkan tokonya.

Seperti biasa sehabis dari toko, Rima bertemu dengan Lukman. Ia tidak tahu kalau hari ini semua kegiatannya diawasi Mail. Saat ia berjabat tangan dengan Lukman, Mail langsung turun dari mobilnya dan menarik tangan kiri istrinya.

Rima sempat terpelanting, "Eneng, jahat ternyata selama ini kepercayaan Akang Eneng nodai, Neng tega selingkuh!" kemarahan Mail kini tidak dapat terbendung lagi.

"Akang, biar Neng jelaskan siapa dia!" pinta Rima sambil meronta dari pegangan tangan suaminya.

"Sudah jelas Akang lihat dengan mata telanjang, pulang sekarang!" bentak Mail sambil menyeret Rima ke mobilnya.

Rima dimasukkan paksa ke dalam mobil, tiba-tiba wajahnya pucat pasi. Mail tidak peduli dengan kondisi istrinya, Ia langsung mengemudikan mobilnya pulang.

Sesampainya di rumah, Mail turun sambil membanting pintu mobil keras-keras berharap istrinya bangun dan turun sendiri. Namun setelah Mail sampai di kamarnya, Ia marah besar kenapa istrinya masih terlelap di mobil. Ia pun membuka pintu mobil dan membentak keras tapi istrinya tidak bergeming.

Mail mencoba menyentuh kepala istrinya lemas, pucat pasi dan dingin seluruh tubuhnya. "Eneng kenapa?" tanyanya sambil gugup, ia langsung melarikan mobilnya ke rumah sakit.

"Sus, tolong istri saya pingsan sendari tadi Sus!" kata Mail ketakutan. Setelah istrinya dibawa masuk ke ruang IGD, ia pun gelisah sambil berjalan mondar-mandir tanpa arah.

Ia ingat sahabat istrinya yang paling dekat hanya Amel, ia mencoba mengabari Amel. Ternyata Amel datang dengan laki-laki pasangan selingkuh istrinya.

"Masih berani ya menampakkan muka di hadapanku? Eneng tidak butuh kamu!" suara kemarahan Mail menggema.

"Kak, laki-laki ini suami saya. Selama ini memang Rima sering di jemput kang Lukman, karena kang Lukman bekerja di rumah sakit ini.

"Lalu apa hubungannya dengan istri saya?" tanya Mail masih dengan nada tinggi.

"Sebenarnya aku tidak di perbolehkan bicara soal ini, tapi supaya Kak Mail tahu Rima di identifikasi terkena penyakit kanker payudara. Selama ini Ia baru sekedar cek dan tes laboratorium." Jelas Amel penuh amarah.

Tiba-tiba tim dokter keluar, Mail pun bergegas mendekat. "Gimana kondisi istri saya Dok?" tanya Mail yang begitu gelisahnya.

"Istri Anda butuh istirahat yang banyak, kami berharap sebelum Minggu agar bisa Segera di angkat kankernya." kata dokter sambil berlalu menuju kantornya. Tubuh Mail terasa lemas saat mendengar kata-kata dokter tersebut.

"Maafkan akang Neng, kenapa Eneng sembunyikan penyakit Eneng dari akang." Kata-kata penyesalan akhirnya di ucapkan Mail pada Rima. Amel dan Lukman memberi saran agar Mail terlihat tegar setelah tahu penyakit Rima, karena ia butuh semangat dari orang-orang terdekatnya.

Sumber pict: http://google.com

#MakMoodMenulis
#TantanganMakMoodMenulis9
#Ceritaku
#ceritakita
9 Manfaat Jujur dalam Menghadapi Tes
Oleh : R. Puji Astuti

Maraknya budaya mencontek pada siswa saat ini, sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri yang kurang. Selain itu mereka malas belajar karena menganggap nilai yang tinggi bisa dicapai dengan menyontek.

Agar kebiasaan mencontek ini mampu diatasi, banyak cara yang dapat kita lakukan. Sebagai contoh melalui membangkitkan rasa percaya diri siswa, dan menanamkan jiwa yang realistis. Sangsi tegas juga perlu diterapkan agar objektivitas penilaian terwujud. Menciptakan kesadaran disiplin dan etika kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.

Kebiasan menyontek dapat teratasi tidak hanya dari usaha siswa, tapi juga dari usaha guru dan orang tua untuk membimbing siswa dan lebih menerapkan prinsip kejujuran. Dengan mengembangkan pribadi yang jujur mampu terbiasa hidup jujur.

Jika kita menjadi pribadi yang jujur, maka akan banyak manfaat yang kita dapati. Berikut 9 manfaat jujur dalam menghadapi tes:

1. Siswa akan merasa bangga dan puas dengan hasilnya sendiri.

Dengan jujur menghadapi tes siswa akan bangga, ternyata dia mampu menyelesaikan sendiri soal-soalnya. Sebuah hasil yang didapatkan dari jerih payah sendiri, akan menimbulkan kepuasan tersendiri.

2. Membuat perasaan tenang dan bahagia.

Menyontek menimbulkan perasaan tidak tenang, takut ketahuan dan akhirnya kesedihan karena berbuat salah muncul. Sebaliknya jika kita tetap mengerjakan sendiri tidak akan gusar dan pasti lebih bahagia.

3. Disukai banyak orang.

Kalau kita selalu jujur pasti banyak orang menyukainya, nyaman bersama dengannya. Hal ini dikarenakan orang lain akan merasa diri kita itu tidak mungkin membohongi.

4. Banyak orang yang ingin bergaul dengan kita.

Hal ini dikarenakan kenyamanan bergaul dengan orang yang jujur.

5. Dipercaya banyak orang.

Selain suka pada diri kita orang lain pasti akan timbul rasa percaya. Karena tidak pernah berbohong, pasti mereka akan menyerahkan seluruh kepercayaan itu pada kita. Orang akan nyaman berbicara hal-hal pribadi dengan kita, karena mereka merasa apa yang dibicarakan aman, tidak mungkin disebarluaskan.

6. Menjadi modal sukses bagi orang tersebut.

Dengan tidak menyontek kita jadi benar-benar mendalami ilmu, agar hasil kita bagus. Sehingga ilmu tersebut dapat kita gunakan disetiap saat, ini salah satu modal sukses yang paling utama.

7. Siswa akan terbiasa bersikap jujur setiap saat.

Seseorang yang terbiasa bersikap jujur, dimanapun, kapanpun dan pada siapapun pasti akan tetap jujur. Sedangkan orang yang terbiasa bohong, akan menutupi kebohongannya dengan kebohongan yang lain.

8. Membuat hidup kita lebih terarah dan teratur.

Kalau kita terbiasa jujur pasti hidup kita akan mempunyai tujuan. Sehingga lebih terarah untuk selalu berusaha, dan teratur dalam memanfaatkan waktu.

9. Menjadi orang yang sukses dikarirnya nantinya.

Karena sifat jujur yang membuat orang lain senang dan percaya, sehingga pada saat berkarir lebih mudah mendapatkan relasi kerja. Selain itu dengan arah tujuan hidup yang teratur membawa pribadi yang tangguh dan pandai.

Ternyata banyak sekali manfaat melatih kejujuran dalam menghadapi tes, yang akan berdampak pada masa depan kita. Jika kita selalu jujur perasaan senang dan bahagia pasti menyelimuti kita.

Artikel ini terinspirasi dari penelitian Dewi Sartika, Kebiasaan Menyontek di Kalangan Siswa, yang dipublikasikan di http://dewi3sartika.wordpress.com

Sumber Gambar :  https://goo.gl/images/39CbAA di edit dengan Canva.com


Anakku Sayang Anakku Malang

Anakku Sayang Anakku Malang By: R.Puji Astuti Pagi masih penuh kabut, Trimo sudah mulai meninggalkan rumah untuk mencari makanan bagi ...